Selain menyoroti pelatih, Anton juga menilai PSSI ikut bertanggung jawab atas kegagalan ini.
Ia menilai federasi masih terjebak dalam pola pikir yang keliru, terutama dalam hal perencanaan dan persiapan tim nasional.
Baca Juga: PON Bela Diri 2025: Kisah Emas dari Pegulat Veteran Jatim
Salah satu kritik utama yang disampaikan adalah durasi persiapan yang terlalu singkat, terutama menjelang pertandingan penting.
“Kualitas pemain kita masih jauh dari level dunia. Kalau cuma kumpul dua hari sebelum laga, ya sulit berharap hasil maksimal,” ujarnya.
Anton juga menyinggung kebijakan PSSI dalam merekrut pemain diaspora yang bermain di luar negeri.
Baca Juga: PON Bela Diri 2025 Jadi Model Seleksi dan Pembinaan Atlet Nasional
Menurutnya, hal itu memang memperkuat kualitas individu, namun di sisi lain memperburuk soliditas tim karena keterbatasan waktu latihan bersama.
“PSSI tahu bahwa dengan banyaknya pemain diaspora, waktu persiapan akan lebih pendek. Mereka pasti sadar risikonya,” katanya.
Lebih jauh, Anton menilai PSSI perlu mencari pelatih dengan rekam jejak lebih baik dari Patrick Kluivert.
Baca Juga: PON Bela Diri 2025: Jawa Barat Sementara Dominan, Baru Enam Provinsi Raih Emas
Ia menilai karier kepelatihan Kluivert sejauh ini belum cukup meyakinkan untuk menangani tim nasional yang memiliki ambisi besar.
“Kalau mau maju, bukan hanya pelatih yang diganti, tapi pola pikir federasi juga harus berubah,” tegas Anton.
Menurutnya, perubahan struktural dan manajerial menjadi kunci agar Timnas Indonesia bisa bersaing di level internasional.
Baca Juga: Mode Anti-Tren Menguasai Dunia Sepak Bola