SportlinkNews - Garuda Pertiwi tidak ingin kehilangan tenaga sebelum pertandingan yang paling menentukan.
Menghadapi Thailand pada final Srikandi Merdeka Cup 2026, Minggu, 23 Agustus 2026, tim asuhan Timo Scheunemann lebih memilih memaksimalkan pemulihan ketimbang menggeber latihan.
Jeda singkat setelah semifinal membuat kondisi fisik pemain menjadi salah satu perhatian utama. Garuda Pertiwi harus memastikan energi para pemain tetap terjaga ketika tampil di Supersoccer Arena, Kudus.
Baca Juga: Taruhan Besar Tottenham Hotspur Merekrut Savinho dari Manchester City
Timo mengatakan program tim setelah pertandingan semifinal lebih banyak diarahkan untuk mengembalikan kebugaran. Istirahat dan ice bath menjadi bagian dari rutinitas pemulihan agar pemain tidak mengalami kelelahan berlebihan.
"Kita selalu ada ice bath, kita selalu ada rest. Jadi kita enggak over-training," ungkap Timo di jumpa pers jelang pertandingan, Sabtu, 22 Agustus.
Menurutnya, latihan dengan porsi berlebihan justru bisa menjadi bumerang. Pada fase menuju final, kesegaran pemain dinilai lebih penting dibanding menambah beban latihan.
Baca Juga: Enzo Maresca Waspadai Bournemouth yang Bermain Agresif
Kondisi tersebut juga dirasakan Ayla Dva Khala Ahisma. Pemain Garuda Pertiwi itu mengakui rangkaian pertandingan membuat tubuh mulai merasakan lelah. Namun, kesempatan bermain di final membuat semangatnya tetap terjaga.
"Perasaan Ayla senang banget karena bisa masuk final. Harapannya bisa tampil maksimal. Walau capek, kita enggak boleh sampai kendor," imbuhnya.
Di tengah upaya menjaga kebugaran skuad, Timo juga masih menunggu perkembangan Nafeeza Ayasha Nori. Gelandang yang akrab disapa Nave itu sebelumnya mengalami cedera sehingga harus absen ketika Garuda Pertiwi menundukkan Yordania 3-0 di semifinal.
Baca Juga: Ezri Konsa Tinggalkan Aston Villa, Bergabung dengan Arsenal untuk Liga Primer 2026/27
Kondisi Nave kini disebut mulai membaik. Timo berharap waktu yang tersisa sebelum final dapat dimanfaatkan untuk menjalani fisioterapi sehingga peluangnya untuk kembali memperkuat tim tetap terbuka.
"Kondisi Nave juga membaik. Kemarin kan panik karena kejadiannya langsung, hanya enggak ada waktu untuk fisioterapi. Saya harap ada empat kali sesi fisioterapi sehingga dia bisa main," tuturnya.
Meski demikian, Timo belum ingin mengambil keputusan terlalu cepat. Kondisi Nave akan terus dipantau sebelum tim pelatih menentukan apakah sang pemain cukup siap untuk turun menghadapi Thailand.
Baca Juga: Tinggalkan Anfield, Curtis Jones Sampaikan Pesan Emosional untuk Fans Liverpool
Jika Nave belum pulih sepenuhnya, Garuda Pertiwi sudah memiliki alternatif. Timo akan kembali mengandalkan fleksibilitas pemain dan melakukan rotasi seperti ketika menghadapi Yordania.
"Kalau misalnya enggak bisa main, ya konsekuensinya seperti kemarin, diputar-putar," katanya.
Rotasi menjadi salah satu ciri permainan Garuda Pertiwi selama turnamen. Pada semifinal, Kesya Arabella Manisia Nian atau Keysa bahkan dimainkan di tiga posisi. Sementara Anya Gabreilla Chandra menjalankan tugas di empat posisi berbeda.
Baca Juga: Lionel Messi Tampar Lawan, MLS Jatuhkan Sanksi Denda
Bagi Timo, kemampuan pemain menjalankan lebih dari satu peran merupakan bagian penting dalam proses pembentukan tim. Apalagi, skuad Garuda Pertiwi diisi pemain-pemain muda yang secara alami lebih nyaman berada di posisi utama mereka.
"Kesha main tiga posisi, Anya sampai main empat posisi. Jadi perputarannya harus ada sesuai siapa yang lebih pas di hari itu," tambahnya.
Ia mengakui fleksibilitas tersebut masih menjadi pekerjaan rumah. Para pemain perlu lebih cepat beradaptasi ketika tuntutan pertandingan mengharuskan mereka bergeser dari posisi favorit.
Baca Juga: Persib Bersiap Hadapi Persaingan di Level Asia, Manila Digger Jadi Cobaan Pertama
"Karena ini pemain muda, dia lebih nyaman di satu posisi. Kalau dipindah ke posisi lain kadang-kadang, 'Aduh enggak bisa.' Ya sudah kita coba yang lain. Harus lebih fleksibel," ucapnya.
Selain fleksibilitas posisi, ada satu hal lain yang mendapat perhatian khusus Timo menjelang duel dengan Thailand. Garuda Pertiwi harus mampu bermain lebih tenang ketika menguasai bola.
"PR-nya pada saat kita menguasai bola lebih tenang, dan itu harus mutlak bisa mereka lakukan lawan Thailand," tegasnya.