SportlinkNews - Kebangkitan Detroit Pistons musim ini bukan sekadar kejutan, tetapi sinyal serius bahwa mereka siap menjadi kekuatan baru di NBA.
Tim asuhan J. B. Bickerstaff menunjukkan konsistensi luar biasa, terutama saat menghadapi tim-tim papan atas.
Pistons tercatat mengalahkan sejumlah raksasa seperti Boston Celtics, Los Angeles Lakers, Denver Nuggets hingga Oklahoma City Thunder.
Baca Juga: Percaya Diri Meningkat, Rachel/Febi Jaga Asa Juara di Orleans Masters 2026
Lebih impresif lagi, mereka mengoleksi rekor 13-6 melawan 10 tim terbaik liga, menjadi yang terbaik di kategori tersebut.
Performa Pistons juga tercermin dari statistik. Mereka menempati peringkat kedua dalam pertahanan (109,2 poin per 100 penguasaan bola), kedelapan dalam serangan (116,9), dan ketiga dalam net rating (+7,8).
Dominasi defensif menjadi identitas utama, dengan catatan tertinggi liga dalam steal (10,4 per gim) dan blok (6,4 per gim), serta memimpin dalam forced turnover lawan.
Baca Juga: Maverick Vinales Diadang Masalah Cengkeraman Ban Depan Motornya Jelang MotoGP Brasil
"Fokus besar kami adalah memenangkan possession game. Steal dan blok mengurangi peluang tembakan lawan," ujar Bickerstaff.
Kebangkitan ini mengingatkan pada era kejayaan "Bad Boys" hingga "Goin' To Work" yang membawa gelar bagi Pistons pada 1989, 1990, dan 2004. Kini, karakter kerja keras dan fisik itu kembali terlihat.
Namun, tantangan tetap ada. Absennya bintang utama Cade Cunningham menjadi ujian besar. Kontribusinya yang mencapai 24,5 poin, 9,9 assist, dan 5,6 rebound per gim sulit tergantikan.
Baca Juga: LaLiga Retro Matchday 2026: Nostalgia Klasik Hidup Kembali di Lapangan
Selain itu, Pistons masih lemah dalam akurasi tripoin, peringkat 22 untuk persentase dan 28 untuk jumlah tembakan masuk.
Meski begitu, kedalaman skuad mulai berbicara. Nama-nama seperti Tobias Harris, Duncan Robinson, hingga Ausar Thompson mampu mengisi peran kolektif saat dibutuhkan.
Mentalitas tim juga terus ditempa. Pengalaman musim lalu saat menghadapi New York Knicks di playoff menjadi modal penting.
Baca Juga: Bruno Fernandes Lewati David Beckham untuk Rekor Assist Manchester United
Pistons bahkan mampu mencuri dua kemenangan tandang di Madison Square Garden, indikasi bahwa mereka siap menghadapi tekanan besar.
"Pengalaman itu memberi kami gambaran bagaimana cara menang di playoff," imbuh Bickerstaff.
Dalam sejarah NBA, tim besar seperti Pistons era lama hingga Chicago Bulls milik Michael Jordan pun butuh proses panjang sebelum meraih gelar. Namun di era modern, lompatan instan bukan hal mustahil, seperti yang dilakukan Thunder musim lalu.
Baca Juga: Antonio Conte dan Maurizio Sarri Bergabung dengan Klub 600 Poin di Serie A
Dengan fondasi pertahanan kuat, kedalaman tim, dan kepercayaan diri yang terus tumbuh, Pistons kini tak sekadar tim kuda hitam.
Mereka mulai menatap target lebih tinggi; mematahkan dahaga kemenangan seri playoff dan melangkah jauh di postseason.
Artikel Terkait
Pistons Perpanjang Tren Kemenangan, Cade Cunningham Bersinar di Malam Penuh Drama NBA Cup 2025/26
Pistons Perkasa di Kandang Lawan, Mantapkan Status sebagai Penantang Serius Wilayah Timur NBA Cup 2025/26
James Harden Cetak 55 Poin untuk LA Clippers, Detroit Pistons Raih 12 Kemenangan Beruntun
Dari Juru Kunci ke Penguasa: Pistons Samai Rekor Legendaris Tim 1990 & 2004
Pistons Tumbangkan Cavaliers 122-119 Lewat OT, Rivalitas 55 Tahun Kembali Membara