Dalam pernyataan resmi, mereka menyebut upaya ini bisa memicu fragmentasi dan kebingungan di antara penggemar serta pelaku industri.
Baca Juga: Duel Semen Padang FC vs Arema FC Penentu Nasib Kabau Sirah di Liga 1
Bagi dunia sepak bola, langkah ini mengingatkan pada proyek Liga Super Eropa yang gagal pada 2021, meskipun NBA menegaskan pendekatannya berbeda.
Jika Liga Super mengabaikan sistem promosi dan degradasi, NBA justru ingin memasukkan sistem tersebut dalam liga barunya, yang kemungkinan terdiri dari 12 hingga 16 waralaba.
Salah satu strategi percepatan ekspansi adalah menggandeng klub olahraga yang sudah eksis.
Baca Juga: Napoli Vs Cagliari: Penentuan Scudetto Serie A Kemungkinan Tanpa 4 Pemain
Aivazoglou menyebut ada peluang besar bagi klub sepak bola untuk terlibat.
Klub seperti Manchester United dan Liverpool, yang belum memiliki tim basket, dinilai punya potensi kuat untuk jadi mitra komersial karena kekuatan merek global mereka.
London pun dipandang sebagai kota dengan peluang terbesar bagi proyek ini.
Baca Juga: Como Vs Inter: Bocoran Rencana Perubahan Susunan Pemain Inzaghi
Meski merupakan ibu kota besar dengan tradisi olahraga kuat, kota ini belum memiliki klub basket profesional.
Meski rencana ini masih berada dalam tahap penjajakan, NBA yakin langkah ini dapat membuka jalan bagi talenta Eropa untuk berkembang tanpa harus hijrah ke Amerika Serikat.
“Tujuan kami bukan menyaingi NBA di Amerika, tapi menciptakan ruang bagi pemain Eropa yang belum masuk 450 besar dunia untuk tetap bersinar di benua mereka sendiri,” pungkas Aivazoglou.