SportlinkNews - Anggota Dewan FIBA, yang juga Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam membangun olahraga nasional, khususnya bola basket.
Karena pembangunan olahraga dinilainya tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah.
Keterlibatan pihak swasta dinilai menjadi faktor kunci dalam memperkuat pembinaan, terutama di level sekolah.
Baca Juga: Bojan Hodak Akui Pemainnya Sempat Gugup Menghadapi PSIM Yogyakarta
"Sejak awal saya selalu sampaikan, membangun olahraga tidak bisa hanya dari pemerintah. Keterlibatan swasta sangat penting. Karena itu, kami mengapresiasi Milo yang aktif dalam pengembangan olahraga di sekolah," kata Erick di peluncuran program FIBA "Basketball for Good" di kantor FIBA Indonesia, Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia menambahkan, kerja sama antara Milo, FIBA, dan PERBASI menjadi langkah positif dalam mendorong popularitas dan pembinaan bola basket di Tanah Air. Saat ini, olahraga tersebut termasuk salah satu yang paling diminati kalangan pelajar.
"Bola basket merupakan salah satu olahraga favorit anak muda, terutama di sekolah. Popularitasnya bisa dibilang berada di peringkat tiga," imbuhnya.
Baca Juga: Duel Persija Vs Persib Digelar di Stadion Segiri, Panpel Persija: Ini Jelas Sebuah Kerugian!
Dalam pertemuan yang juga melibatkan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick menyebut pembahasan difokuskan pada penguatan pembinaan talenta nasional.
Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang olahraga.
Salah satu program yang didorong adalah kolaborasi pelatihan dan sertifikasi pelatih serta wasit. Erick menjelaskan, program tersebut dapat berjalan beriringan dengan kegiatan yang sudah dilakukan pihak swasta.
Baca Juga: Buntut Tendangan Kungfu, Komdis PSSI Skors Fadly Alberto Tiga Tahun
"Ketika program Milo masuk ke suatu kota dan menggelar coaching clinic di banyak sekolah, pada saat yang sama Kemenpora bersama FIBA dan PERBASI bisa merekrut guru-guru yang berminat menjadi pelatih atau wasit untuk disertifikasi," ujarnya.
Ia menekankan, ketersediaan pelatih dan wasit menjadi fondasi utama dalam pembangunan olahraga di level akar rumput. Tanpa jumlah yang memadai, pembinaan dinilai tidak akan berjalan optimal.
Lebih lanjut, Erick memastikan bahwa pemerintah tetap menghormati independensi federasi olahraga.
Baca Juga: MotoGP Prancis: Mengintip Kekuatan Pembalap Tuan Rumah dan Pemenang di Le Mans
Sesuai regulasi terbaru, proses sertifikasi menjadi kewenangan federasi masing-masing, sementara pemerintah berperan dalam mendorong program dan kolaborasi.
"Kemenpora menghargai independensi federasi. Namun kebebasan itu bukan berarti berjalan sendiri tanpa arah. Harus tetap ada sinergi untuk membangun olahraga nasional," ucapnya.
Ia berharap kerja sama antara pemerintah, federasi, dan sektor swasta dapat terus diperkuat guna menciptakan ekosistem olahraga yang berkelanjutan di Indonesia.