SportlinkNews - PBSI terus mengkaji mekanisme bagi pemain yang ingin berkarier di luar Pelatnas.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PP PBSI, Eng Hian, yang menegaskan bahwa federasi tidak membeda-bedakan status atlet selama mereka tetap berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia.
"Pemain senior ini mempunyai jangka waktu bermain yang tidak panjang, jadi mereka harus punya komitmen yang tinggi selama berada di Pelatnas dan memaksimalkan waktu yang ada untuk meraih prestasi terbaik," ujar Eng Hian.
Baca Juga: Jay Idzes Berambisi Bawa Timnas Indonesia Lolos dan Juara Piala Dunia
Terkait dengan atlet yang memilih jalur profesional di luar Pelatnas, Eng Hian mengatakan bahwa mekanisme resminya masih dalam tahap kajian lebih mendalam.
PBSI ingin memastikan bahwa regulasi yang dibuat tetap sejalan dengan visi pembinaan dan prestasi nasional.
"Intinya kami tidak membedakan atlet tersebut berada di Pelatnas atau luar Pelatnas, yang terpenting mereka adalah atlet anggota PBSI yang membela dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional," pungkasnya.
Kajian ini menjadi penting mengingat semakin banyak pemain yang mempertimbangkan jalur independen untuk mengembangkan karier mereka.
Baca Juga: Trent Alexander-Arnold ke Real Madrid, Siap Kehilangan Nomor Punggung Ikonis
PBSI berupaya merancang sistem yang tetap mendukung perkembangan atlet, baik yang bernaung di Pelatnas maupun yang berkarier secara profesional di luar sistem nasional.
Beberapa pemain bulu tangkis Indonesia telah memilih untuk berkarier secara profesional di luar naungan Pelatnas PBSI dan mencapai kesuksesan di kancah internasional. Berikut adalah beberapa di antaranya:
Taufik Hidayat yang kini menjadi Wakil Ketua Umum PBSI sempat bermain sebagai pemain profesional tidak lama setelah dia mengundurkan diri dari Pelatnas Cipayung pada Januari 2009.
Baca Juga: Transfer Trent Alexander-Arnold ke Real Madrid, Mohamed Salah Justru Bertahan?
Ia kemudian mendirikan Taufik Hidayat Arena (THA) di Ciracas, Jakarta Timur, sebagai pusat pelatihan bulu tangkis.
Kemudian, ada pemain spesialis ganda putra Alvent Yulianto. Alvent merupakan peraih perunggu di Kejuaraan Dunia 2005 dan medali perak di Asian Games 2006.
Setelah memutuskan tidak lagi menjadi pemain Pelatnas, ia tetap aktif di dunia bulu tangkis, berkompetisi di Kejuaraan Dunia Senior 2023 dan meraih medali emas di kategori ganda putra 35+.
Baca Juga: Hadapi Pemain Top Serie A, Jay Idzes: Lukaku yang Terkuat, Lautaro Tercerdas
Terakhir adalah pasangan Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan. Mereka mulai bermain secara profesional sejak 2018 lalu.
Meski tak lagi di pelatnas, tetapi mereka ternyata tetap dibutuhkan di Pelatnas dan mereka rela untuk berlatih dengan para juniornya dengan status sparing partner atau lawan tanding.
Walaupun begitu, tidak butuh waktu lama untuk Hendra/Ahsan kembali bangkit berprestasi lagi. Dalam setahun, bahkan mereka sudah kembali menciptakan era keemasannya.
Baca Juga: Debut Gol di Liga Italia, Jay Idzes Ingin Angkat Nama Indonesia
Juara All England Open 2019 (gelar kedua), Juara Dunia 2019, Juara BWF World Tour Finals 2019, dan beberapa gelar super series lainnya seperti New Zealand Open 2019.
Konsistensi mereka untuk tetap bertahan di panggung dunia dengan status pemain profesional patut diacungi jempol. Bahkan di 2022, mereka sempat kembali menduduki peringkat 2 dunia.
Karena di 2022, mereka kembali mencapai final All England dan BWF World Tour Finals, meskipun harus puas sebagai runner-up di keduanya. Di tahun lalu, mereka akhirnya memutuskan gantung raket.
Artikel Terkait
PBSI Tarik Apriyani/Fadia dari Swiss Open 2025, Evaluasi Performa Jadi Alasan
Anthony Ginting Absen Panjang, PBSI Ungkap Detail Cedera Bahu yang Dialaminya
PBSI Evaluasi Atlet Pelatnas: Performa Belum Maksimal, Sistem Promosi-Degradasi Diperketat
Skuat Indonesia di Piala Sudirman 2025 Diumumkan 2 April, PBSI Pertimbangkan Pemain Non-Pelatnas
Sistem Promosi-Degradasi Baru PBSI: Percepat Regenerasi dan Tingkatkan Daya Saing Atlet