Selama ini, Axelsen mencoba menghindari operasi karena prosedur pada bagian punggung memerlukan perhatian khusus, mengingat banyaknya saraf penting di tulang belakang.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Liga 1 2024/2025 Pekan ke-28, Momentum Persib Memperkuat Posisi Klasemen
Namun, sejak Desember 2024 hingga Januari 2025, rasa sakit yang ia alami semakin parah hingga akhirnya penggunaan obat penghilang rasa sakit (painkiller) pun tak lagi efektif.
"Saya sudah lama merasakan sakit dan mencoba berbagai cara untuk mengatasinya."
"Namun, sejak Desember dan Januari lalu, rasa sakitnya semakin parah."
Baca Juga: Bek Timnas Indonesia Jadi Kapten, Copenhagen Taklukkan Rangers FC
"Bahkan di Februari dan Maret, saya benar-benar sudah tidak tahan lagi," ujar Axelsen, dikutip dari TV2 Sport Denmark.
Keputusan Axelsen untuk menjalani operasi didasari oleh keinginannya untuk tetap bermain di level tertinggi.
Ia percaya bahwa setelah pemulihan, ia masih bisa bersaing dengan para pemain terbaik dunia.
Baca Juga: Update Klasemen Serie A Setelah Pekan Ke-30: Perebutan Scudetto dan UCL Masih Terbuka Lebar
Menariknya, meskipun mengalami cedera punggung yang cukup parah, Axelsen tetap berhasil mencetak prestasi besar.
Ia sukses meraih medali emas Olimpiade Paris 2024, bahkan menjuarai German Open 2025 awal tahun ini.
Keberhasilannya tersebut membuat para dokter yang menangani cederanya heran.
Baca Juga: Awet Muda, Hidup Sehat dari Pagi hingga Malam, Dokter Sarankan Ini yang Harus Dilakukan
Mereka tidak bisa memahami bagaimana Axelsen mampu tampil di level tinggi dengan kondisi yang seharusnya menghambat pergerakannya.
Artikel Terkait
Pakar Belanda: Sepak Bola Indonesia Tidak Ada Apa-apanya!
Mobil Mewah Erling Haaland Diambil Petugas Manchester City di Bandara
Tiga Hari Dibebaskan dari Tuduhan Pemerkosaan, istri Dani Alves Umumkan Kehamilan
Ancelotti Berubah Pikiran soal Melatih di Madrid, Brasil Jadi Tantangan
Update Klasemen La Liga Spanyol: Lewandowski Pimpin Barcelona Menjauh dari Real Madrid