Menurutnya, capaian sejumlah wakil Indonesia yang mampu melangkah hingga babak akhir menjadi indikator penting bahwa jarak dengan pemain elite dunia semakin tipis.
Namun, konsistensi di momen krusial masih menjadi pekerjaan rumah utama.
"Yang perlu ditingkatkan adalah konsistensi di momen-momen penting. Itu yang sering menjadi pembeda antara menang dan kalah," jelasnya.
Baca Juga: Baggott Kembali, Ridho Optimistis Lini Belakang Timnas Makin Solid
Dari sektor tunggal putra, Kepala Pelatih Indra Wijaya menyoroti penampilan Alwi Farhan yang dinilai menunjukkan progres signifikan. Alwi berhasil menembus perempat final All England dan finis sebagai runner-up di Swiss Open.
Salah satu pencapaian penting terjadi saat Alwi menumbangkan unggulan pertama asal China, Li Shifeng, di babak semifinal Swiss Open. Namun, performanya menurun di partai final.
"Di semifinal dia tampil sangat baik, tapi di final performanya tidak sebaik sebelumnya. Faktor recovery menjadi perhatian karena jadwal yang padat," imbuhnya.
Baca Juga: Aprilia Tampil Dominan di GP Brasil Bikin Ducati Keok, Apa Rahasianya?
Ia menambahkan, peningkatan fisik, kontrol emosi, serta kemampuan membaca permainan lawan menjadi aspek yang harus terus diasah agar Alwi bisa lebih konsisten di level tertinggi.
Sementara itu, dari sektor tunggal putri, pelatih Imam Tohari menilai anak asuhnya juga menunjukkan progres positif, meski konsistensi masih menjadi tantangan.
"Permainan ada yang bagus dan tidak. Konsistensi serta kontrol pikiran masih harus ditingkatkan," katanya.
Baca Juga: FIFA Series 2026 Kian Besar: 50 Tim Berlaga, Grup Putri Bertambah di Kenya
Ia juga menyoroti performa di final Swiss Open yang dinilai belum maksimal akibat tekanan mental.
"Di partai final, faktor mental sangat berpengaruh. Ke depan, pemain harus lebih percaya diri dan mampu mengontrol situasi," tambahnya.
Dari sektor ganda putra, pelatih Antonius Budi Ariantho menilai debut pasangan Raymond/Joaquin di All England sudah sesuai target, meski masih memerlukan banyak perbaikan.
Baca Juga: Harapan Besar PSSI di FIFA Series 2026, Momentum Awal Era Baru Timnas
"Secara permainan cukup baik, tapi ada aspek non-teknis seperti komunikasi, fokus, dan analisis permainan lawan yang perlu ditingkatkan," ungkapnya menambahkan.
Satu yang digaris bawahi, aspek pertahanan dan variasi arah bola harus diperbaiki agar permainan pasangan tersebut semakin solid.
PBSI menegaskan bahwa hasil di tur Eropa ini akan menjadi bahan evaluasi penting untuk meningkatkan performa ke depan.
Baca Juga: Krisis Identitas Gli Azzurri, Sepak Bola Italia Perlu Reformasi Total Usia Muda
Dengan jadwal kompetisi yang padat sepanjang 2026, aspek fisik, mental, dan recovery menjadi kunci utama dalam menjaga konsistensi.
"Hasil ini akan menjadi pijakan untuk langkah selanjutnya, dengan perbaikan yang dilakukan secara bertahap dan terukur," pungkas Eng Hian.
Artikel Terkait
PBSI Jadikan BATC 2026 Ajang Evaluasi Menuju Piala Thomas dan Uber
PBSI Putuskan Apriyani/Lanny Main Rangkap di Ganda Campuran
PBSI Umumkan 74 Atlet Pelatnas 2026, Regenerasi dan Promosi Warnai Komposisi Tim
Tanpa Gelar di All England 2026, PBSI Soroti Perkembangan Pemain Muda
PBSI Tetapkan Sistem Baru Magang, Promosi, dan Degradasi Atlet Pelatnas