bulutangkis

Indonesia Tanpa Gelar di All England 2026, Generasi Muda Mulai Menunjukkan Progres.

Senin, 9 Maret 2026 | 02:33 WIB
All England edisi 2026 menandai pertama kalinya sejak 2011 Indonesia gagal menempatkan wakil di partai final. Pencapaian terbaik Merah Putih pada edisi kali ini diraih Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. (PBSI)

SportlinkNews - Tim bulu tangkis Indonesia kembali harus menutup penampilannya tanpa gelar pada turnamen bergengsi All England 2026 yang berlangsung di Utilita Arena, Birmingham.

Hasil ini juga menandai pertama kalinya sejak 2011 Indonesia gagal menempatkan wakil di partai final.

Pencapaian terbaik Merah Putih pada edisi kali ini diraih pasangan ganda putra muda Raymond Indra/Nikolaus Joaquin yang melangkah hingga babak semifinal.

Baca Juga: Performa Terbaik Manchester City di Markas Newcastle

Langkah mereka terhenti setelah dikalahkan pasangan juara bertahan asal Korea Selatan, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, yang kembali berhasil mempertahankan gelar pada tahun ini.

Secara hasil, capaian tersebut memang belum sepenuhnya memenuhi harapan, mengingat sejak awal Indonesia menargetkan setidaknya satu gelar dari turnamen tersebut.

Meski demikian, penampilan sejumlah pemain muda dinilai tetap memberikan sinyal positif bagi masa depan bulu tangkis nasional.

Baca Juga: Eksperimen Tiga Bek Berbuah Manis, Arteta Sebut Arsenal Harus Adaptasi Situasi

Raymond mengakui bahwa tampil di turnamen level Super 1000 memberi banyak pelajaran berharga bagi dirinya dan pasangan.

Ia menilai konsistensi permainan, terutama pada poin-poin krusial di akhir gim, menjadi hal yang masih perlu diperbaiki.

Pengalaman bertanding di level tertinggi itu, menurutnya, sekaligus menambah jam terbang dan menjadi motivasi untuk terus menikmati proses serta berkembang menjadi lebih baik.

Baca Juga: Jadwal MotoGP Terganggu Konflik Timur Tengah, Carmelo Ezpeleta Siapkan Rencana Cadangan

Sementara itu, pengamat bulu tangkis nasional Daryadi menilai capaian para pemain muda tersebut menunjukkan adanya perkembangan permainan di level tertinggi, khususnya di sektor tunggal putra dan ganda putra.

"Sebanyak 60 persen pemain yang berangkat merupakan atlet muda yang baru pertama kali tampil di turnamen tersebut. Jadi kalau mereka belum bisa naik podium, itu masih wajar," ujarnya.

Menurutnya, dengan munculnya sejumlah pemain muda, Indonesia tidak lagi harus terlalu bergantung pada pemain senior seperti Jonatan Christie, Fajar Alfian, Muhammad Shohibul Fikri, Leo Rolly Carnando, maupun Bagas Maulana.

Baca Juga: Pedro Acosta Pimpin Klasemen MotoGP Tapi Bukan Jaminan Bakal Raih Gelar Juara Dunia

"Ke depan tinggal bagaimana mendorong percepatan perkembangan mereka, terutama dengan memberikan kesempatan bertanding di kompetisi yang tepat. Mereka perlu lebih sering bertemu pemain level atas agar kemampuannya terus terasah," ungkapnya.

Untuk sektor ganda putri dan ganda campuran, Daryadi menilai level keduanya saat ini masih berada di kisaran turnamen Super 300 hingga Super 500.

Dengan kondisi tersebut, mereka dinilai masih membutuhkan waktu sebelum mampu bersaing secara konsisten di turnamen level yang lebih tinggi, seperti Super 750 atau Super 1000.

Baca Juga: SIWO PWI Pusat Kutuk Intimidasi Ofisial Malut United terhadap Wartawan

Ia juga menyoroti sektor ganda putri yang masih mencari komposisi pasangan terbaik setelah beberapa kali terjadi perubahan pasangan.

Dari segi kualitas permainan, menurutnya, level mereka saat ini masih berada di kisaran Super 300 hingga Super 500.

Sementara itu, di sektor ganda campuran, peluang perkembangan justru dinilai lebih terbuka.

Baca Juga: Ambyar, Oscar Piastri Gagal Balap di Kandangnya, Ini Penyebabnya

Jika sebelumnya tumpuan utama hanya berada pada pasangan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, kini pasangan lain mulai menunjukkan kemampuan untuk bersaing dan mengimbangi kualitas permainan mereka.

Tags

Terkini