Bagi Sellami dan para pemainnya, tampil di Piala Dunia sudah menjadi pencapaian bersejarah. Namun Al-Nashama tidak ingin sekadar menjadi pelengkap.
Mereka berharap mampu mengikuti jejak Slovakia pada 2010 sebagai tim debutan yang berhasil menembus fase gugur dan menjadi kejutan baru dari Asia di panggung dunia.
Gaya Bermain Timnas Jordania
Di bawah komando pelatih asal Maroko, Jamal Sellami, Jordania menjelma menjadi salah satu tim paling efektif di Asia. Mereka mungkin tidak mendominasi penguasaan bola, tetapi sangat berbahaya ketika mendapatkan ruang untuk menyerang.
Transisi cepat dari bertahan ke menyerang: Jordania mengandalkan serangan balik kilat. Begitu merebut bola, mereka langsung mengalirkannya ke depan dengan sedikit sentuhan untuk mengeksploitasi ruang kosong lawan.
Baca Juga: FIFA Ultimatum 60 Penggemar yang Menerima Tiket Gratis ke Piala Dunia
Memaksimalkan kecepatan pemain sayap: Kecepatan dan kemampuan dribel pemain sayap menjadi senjata utama untuk membongkar pertahanan lawan. Serangan banyak dibangun melalui sektor sayap sebelum mengarah ke kotak penalti.
Organisasi pertahanan yang disiplin: Sellami menerapkan formasi 3-4-3 yang sering berubah menjadi 5-4-1 saat bertahan. Struktur ini membuat Jordania sulit ditembus sekaligus menjaga keseimbangan antarlini.
Mental pantang menyerah: Salah satu kekuatan terbesar Jordania adalah semangat juang mereka. Tim ini dikenal tetap agresif dan kompetitif hingga peluit akhir berbunyi.
Efisien tanpa harus menguasai bola: Jordania tidak membutuhkan dominasi possession untuk menang. Mereka lebih fokus pada efektivitas serangan dan memanfaatkan setiap peluang yang tercipta.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Pemain Jepang Terlibat Skandal Pelecehan Seksual
Bintang yang Wajib Diperhatikan
Kesuksesan Jordania menembus Piala Dunia 2026 tidak lepas dari kehadiran sejumlah pemain kunci yang menjadi tulang punggung tim.
Perpaduan pemain yang berkarier di luar negeri dan kompetisi domestik membuat skuad asuhan Jamal Sellami memiliki kualitas yang layak diperhitungkan di panggung dunia.
Musa Al-Taamari: Ia menjadi nama pertama yang harus mendapat perhatian lawan.
Winger yang berkarier di Eropa bersama Rennes ini dikenal luas dengan julukan "Messi Jordania" berkat kemampuan menggiring bola, akselerasi, dan kreativitasnya dalam membongkar pertahanan lawan.
Al-Taamari merupakan motor serangan utama Jordania. Kecepatannya saat melakukan transisi membuatnya sangat berbahaya dalam skema serangan balik yang menjadi identitas permainan tim.
Baca Juga: Tyson Fury Habiskan Rp 815 Miliar Percantik Kapal Pesiar
Yazan Al-Arab: Di lini belakang, Yazan Al-Arab menjadi sosok yang tak tergantikan. Bek tengah FC Seoul tersebut merupakan pemimpin pertahanan sekaligus figur yang membawa ketenangan bagi rekan-rekannya saat menghadapi tekanan.
Selain kuat dalam duel udara dan tekel, Al-Arab juga dikenal sebagai ancaman saat situasi bola mati. Karakternya yang agresif membuatnya sulit dilewati penyerang lawan, meski terkadang temperamennya menjadi sorotan sepanjang kariernya.
Noor Al-Rawabdeh: Jika Al-Taamari menjadi mesin serangan, maka Noor Al-Rawabdeh adalah otak permainan tim. Gelandang Selangor tersebut memiliki peran sentral dalam mengatur ritme pertandingan serta menghubungkan lini belakang dengan lini depan.
Dijuluki "The Brain", Al-Rawabdeh memiliki visi bermain yang baik dan kemampuan distribusi bola yang menjadi fondasi permainan Yordania. Kehadirannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan tim, baik saat menyerang maupun bertahan.
Baca Juga: Tiga Pemain Cedera dalam Sehari, Ambyar Tampi di Piala Dunia 2026
Yazan Al-Naimat: Nama lain yang patut diwaspadai adalah Yazan Al-Naimat. Penyerang andalan Yordania ini dikenal memiliki naluri mencetak gol yang tajam dan kemampuan membaca ruang yang sangat baik.
Al-Naimat sering muncul di posisi yang tepat pada momen krusial. Ketajamannya di area penalti membuatnya menjadi target utama dalam penyelesaian akhir, terutama ketika Yordania mengandalkan serangan cepat dan umpan silang ke kotak penalti.
Kekuatan Timnas Jordania
Jordania datang ke Piala Dunia 2026 bukan hanya sebagai pelengkap. Wakil Asia Barat tersebut membawa identitas permainan yang semakin matang dan mampu merepotkan tim-tim besar.
Serangan Balik Mematikan: Jordania dikenal sebagai salah satu tim terbaik dalam memanfaatkan transisi.
Baca Juga: Kimi Antonelli Merebut Pole position GP Monaco, Kim Kardashian Mencuri Perhatian di Garasi Ferrari
Mereka tidak keberatan menyerahkan penguasaan bola kepada lawan, bertahan lebih dalam, lalu menghukum lewat serangan balik cepat yang mengandalkan kecepatan para pemain sayap.
Lebih Berani Mengambil Inisiatif: Dalam beberapa tahun terakhir, Jordania mengalami evolusi permainan.
Mereka tidak lagi hanya fokus bertahan, tetapi mulai berani bermain lebih agresif dan mengambil inisiatif ketika menghadapi lawan dengan kualitas lebih tinggi.
Organisasi Pertahanan Semakin Solid: Disiplin antarlini menjadi salah satu fondasi utama permainan Yordania. Jarak antar pemain terjaga dengan baik sehingga lawan sering kesulitan menemukan ruang di area pertahanan mereka.
Baca Juga: Grup J Piala Dunia 2026: Das Team Kembali ke Piala Dunia, Rangnick Bidik Kejutan di Amerika Utara
Lini Tengah Agresif dan Dinamis: Sektor tengah menjadi motor permainan Yordania. Para gelandang tampil agresif dalam merebut bola sekaligus cepat mengalirkannya ke depan.
Umpan vertikal dan permainan direct sering digunakan untuk mempercepat proses serangan.
Mental Bertanding yang Terus Meningkat: Kesuksesan dalam berbagai turnamen internasional membuat kepercayaan diri skuad Yordania meningkat signifikan.
Mereka kini lebih tenang menghadapi pertandingan besar dan tidak mudah kehilangan fokus ketika berada di bawah tekanan.
Baca Juga: Timnas U19 Indonesia Vs Vietnam: Garuda Muda Wajib Menang
Artikel Terkait
Piala Dunia 2026 Menanti Messi dan Mbappe Pecahkan Rekor
Tiga Pemain Cedera dalam Sehari, Ambyar Tampi di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026: Pemain Jepang Terlibat Skandal Pelecehan Seksual
FIFA Ultimatum 60 Penggemar yang Menerima Tiket Gratis ke Piala Dunia
Media Italia Soroti Juventus yang Kepincut Alexander Sorloth, Atletico Madrid Tunggu Piala Dunia Kelar