SportlinkNews - Menjadi juara dunia adalah pencapaian luar biasa. Namun mempertahankannya adalah tantangan yang jauh lebih sulit.
Itulah misi yang kini berada di pundak Argentina saat mereka bersiap menghadapi Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Empat tahun lalu, La Albiceleste menutup perjalanan panjang Lionel Messi dengan akhir yang sempurna di Qatar.
Trofi yang selama ini menjadi obsesi terbesar sang kapten akhirnya berhasil diraih, sekaligus mengakhiri penantian Argentina selama 36 tahun untuk kembali berdiri di puncak dunia.
Baca Juga: Calvin Verdonk Tinggalkan Timnas Indonesia
Kini situasinya berbeda. Argentina bukan lagi pemburu. Mereka adalah target utama.
Status juara bertahan membuat setiap lawan datang dengan motivasi ekstra. Tidak ada lagi keuntungan sebagai tim yang dianggap penantang.
Sebaliknya, pasukan Lionel Scaloni harus menghadapi tekanan sebagai tim yang ingin dijatuhkan oleh semua peserta.
Meski demikian, Argentina datang ke turnamen ini dengan modal yang sangat kuat.
Baca Juga: Jersey Ikonik Pele di Final Piala Dunia 1958 Dihargai Fantastis
Mereka tampil dominan sepanjang kualifikasi zona Amerika Selatan dengan finis di posisi teratas klasemen. Konsistensi menjadi kekuatan utama tim ini.
Inti skuad yang membawa pulang trofi Piala Dunia 2022 masih dipertahankan, sementara sejumlah pemain generasi baru mulai matang dan memberikan kedalaman yang lebih baik di berbagai lini.
Kesuksesan mempertahankan gelar Copa America pada 2024 juga menjadi bukti bahwa pencapaian di Qatar bukanlah kebetulan sesaat.
Di bawah arahan Scaloni, Argentina berkembang menjadi tim yang sangat pragmatis.
Baca Juga: Luksemburg 0-1 Italia: Pio Esposito Jadi Penentu di Malam Debut
Mereka tidak selalu tampil spektakuler, tetapi tahu kapan harus mengendalikan tempo, kapan harus menekan, dan kapan harus mematikan pertandingan.
Kemampuan membaca situasi inilah yang membuat Argentina menjadi salah satu tim paling efisien di level internasional.
Namun jalan menuju sejarah tidak sepenuhnya mulus.
Salah satu perhatian terbesar tentu tertuju kepada Messi. Kapten legendaris itu akan tampil dalam kondisi yang berbeda dibanding empat tahun lalu. Usia yang mendekati 39 tahun membuat pengelolaan kebugarannya menjadi prioritas utama staf pelatih.
Baca Juga: Peringkat Skuad Termahal di Piala Dunia 2026: Mbappe Memimpin di Planet Ini
Scaloni bahkan menerapkan pendekatan khusus. Ketika pemain lain menjalani program fisik dengan intensitas tinggi, Messi mendapat menu latihan yang lebih personal.
Fokusnya bukan lagi membangun daya tahan seperti pemain muda, melainkan menjaga kondisi tubuh agar tetap segar pada momen-momen yang paling menentukan.
Strategi tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran Messi dalam sistem permainan Argentina. Meski tidak lagi memiliki kecepatan dan mobilitas seperti masa jayanya, pengaruhnya tetap luar biasa.
Baca Juga: Model Terpanas Ivana Knoll Jebol gawang Inggris
Kehadirannya saja sudah cukup untuk mengubah struktur pertahanan lawan. Ketika Messi menguasai bola, perhatian dua hingga tiga pemain lawan sering kali langsung tertuju kepadanya.
Ruang yang tercipta dari situ kemudian dimanfaatkan oleh pemain-pemain seperti Julian Álvarez dan Lautaro Martínez untuk menyerang area berbahaya.
Di belakang mereka, gelandang pekerja keras seperti Enzo Fernandez dan Rodrigo De Paul menjadi mesin yang menjaga keseimbangan tim.
Kombinasi kreativitas, disiplin, dan pengorbanan kolektif membuat Argentina tetap menjadi salah satu tim paling komplet di turnamen ini.
Baca Juga: Final NBA 2026: Akhir Penantian 53 Tahun Knicks atau Awal Dinasti Baru Spurs?
Meski begitu, sejumlah pertanyaan masih mengiringi langkah mereka.
Sejak menjuarai Piala Dunia 2022, Argentina belum banyak menghadapi kekuatan elite Eropa dalam pertandingan kompetitif.