“Pembinaan prestasi ini belum merata. Kita ingin semua provinsi punya perwakilan dan bisa bersaing di setiap event,” tambahnya.
Federasi Kurash Indonesia sendiri, menurut Hafil, merupakan organisasi yang mandiri dan tidak bergantung pada anggaran pemerintah.
Kegiatan nasional dibiayai secara swadaya, sementara bantuan pemerintah hanya dibutuhkan untuk event internasional seperti SEA Games atau Asian Games.
Baca Juga: KONI Lampung Selatan Gelar Musorkablub, Begini Pesan Bupati Radityo Egi
Selain Rakernas, agenda pelatihan wasit dan pelatih yang telah berlangsung sejak 14 Juni, ditutup dengan ujian praktik pada saat Kejurnas yang digelar besok.
PB FERKUSHI juga tengah bersiap menjadi tuan rumah Kejuaraan Asia Tenggara pada 28 Agustus hingga 1 September mendatang di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
“Kurash adalah olahraga beladiri tradisional berusia 3.500 tahun dari Uzbekistan, dan baru dikenal di Indonesia sejak 2016. Namun, kita sudah ikut Asian Games pada 2018 dan langsung raih perunggu. Ini bukti potensinya besar,” pungkas Hafil.
Baca Juga: Atlet Hoki Kaltim Pelanggan Masuk Skuat Pelatnas Indonesia
Ia menekankan pentingnya tiga pilar dalam pengembangan organisasi olahraga: tata kelola organisasi, pembinaan prestasi, serta manajemen administrasi dan keuangan. Jika semua diterapkan secara konsisten di daerah seperti Kaltim, ia optimis prestasi akan terus berkembang. (yud)
Artikel Terkait
Presiden VFF Tidak Bisa Tidur 2 Malam Saat Vietnam Dibantai Malaysia 4-0, Bicara Naturalisasi Pemain
Melengkapi Koleksi adidas x Inter Miami, Siluet Terbaru Gazelle "Inter Miami" di Luncurkan
Skuat Timnas Indonesia U-23 Dibilang Aneh, Vietnam Lebih Berpeluang Juara dan Catat Rekor Baru
Hasil Piala Dunia Antarklub: River Plate Bungkam Semangat Urawa Red
Gegara Terlihat Berlibur dengan Lamine Yamal, Influencer Fati Vazquez Menerima Ancaman Pembunuhan