SportlinkNews - Pengembangan futsal Indonesia dinilai tidak bisa lagi hanya bertumpu pada pusat.
Ketua Umum Asosiasi Futsal Indonesia, Michael Sianipar, menegaskan kekuatan utama pembinaan justru berada di daerah yang selama ini terus melahirkan pemain-pemain potensial.
Hal itu disampaikan Michael dalam Kongres Biasa AFI 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Baca Juga: Joao Cancelo Tuding Manajemen Al Hilal Ingkar Janji
Menurutnya, potensi besar futsal nasional tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan membutuhkan sistem pembinaan yang terhubung dari level daerah hingga tim nasional.
Ia menilai perkembangan futsal daerah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir seiring munculnya kompetisi rutin yang digelar asosiasi provinsi maupun berbagai turnamen swasta.
Situasi tersebut dianggap menjadi fondasi penting dalam menjaga regenerasi pemain muda.
Baca Juga: PSSI Respons Kabar Indonesia Jadi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup 2026
"Minggu lalu saya bertemu dengan perwakilan asosiasi futsal provinsi. Banyak pemain muda mulai bermunculan dan membangkitkan semangat futsal di daerahnya masing-masing. Itu yang harus terus kita jaga dan kembangkan," kata Michael.
Menurutnya, talenta futsal muda tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.
Ia menyebut daerah seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku, Papua, hingga Aceh memiliki banyak pemain potensial yang membutuhkan jalur pembinaan jelas agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
Baca Juga: Masuk Skuad Sementara Brasil, Thiago Silva Berpeluang Tampil di Piala Dunia Kelima
Karena itu, AFI kini memperkuat kerja sama dengan asosiasi provinsi, klub profesional, komunitas futsal, hingga penyelenggara kompetisi swasta.
Michael menilai pembangunan futsal nasional membutuhkan keterlibatan banyak pihak karena federasi tidak mungkin bekerja sendiri.
"Potensi pemain muda futsal Indonesia sangat besar. Yang dibutuhkan sekarang adalah ekosistem dan jalur pembinaan yang berkelanjutan," ujarnya.
Baca Juga: Hapus Catatan Negatif Bhayangkara FC, Moussa Sidibe Tegaskan Pentingnya Kerja Tim
AFI juga menyoroti pentingnya kompetisi usia muda sebagai bagian dari pembinaan jangka panjang. Kehadiran PFL 2 atau Liga 2 futsal dinilai memberi dampak positif karena klub peserta diwajibkan memiliki pemain muda dalam skuadnya.
Selain itu, AFI berencana menghadirkan turnamen nasional kelompok usia U-20 yang melibatkan perwakilan berbagai provinsi.
Kompetisi tersebut diproyeksikan menjadi wadah tambahan bagi pemain muda untuk mendapatkan jam bermain dan pemantauan lebih luas.
Baca Juga: Taisei Marukawa Patok Target Dewa United Tembus Empat Besar Super League
Di sisi lain, Michael mengakui kualitas fasilitas futsal di daerah masih menjadi tantangan besar.
Berdasarkan hasil talent scouting tim pelatih nasional di sejumlah wilayah Indonesia, antusiasme masyarakat terhadap futsal memang sangat tinggi dan jumlah lapangan terus bertambah. Namun, standar fasilitas dinilai belum merata.
Karena itu, AFI mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah, sekolah, dan universitas guna meningkatkan kualitas sarana olahraga futsal.
Menurut Michael, pembangunan futsal nasional bukan hanya soal organisasi, tetapi juga bagaimana membangun industri dan ekosistem olahraga secara menyeluruh.
Artikel Terkait
Piala AFF Futsal 2026: Gagal Pertahankan Gelar, Indonesia Kembali Runner Up usai Tumbang dari Thailand
Tetap Bangga Meski Runner-up, Timnas Futsal Siapkan Regenerasi dan Proyek Jangka Panjang
Soroti Akar Masalah Futsal, Hector Souto Sebut Indonesia Kehilangan Tahun Penting
Peringkat 14 Dunia Bukan Jaminan, Hector Souto Soroti Lemahnya Sistem Kompetisi Futsal Nasional
FFI Resmi Berganti Nama Jadi AFI, Sesuaikan Statuta Baru PSSI