SportlinkNews - Tim panjat tebing Indonesia membawa pulang satu medali perunggu dari seri pembuka IFSC World Climbing Series 2026 di Wujiang, China, Minggu, 10 Mei 2026.
Medali tersebut dipersembahkan Desak Made Rita Kusuma Dewi dari nomor speed putri setelah melalui perjuangan yang tidak mudah sepanjang babak final.
Desak Made harus menghadapi rekan senegaranya Rajiah Salsabillah pada babak 16 besar. Dalam duel sesama atlet Indonesia itu, Desak tampil lebih cepat dengan catatan waktu 6,36 detik, unggul atas Rajiah yang membukukan 6,53 detik.
Baca Juga: Jorge Martin Kuasai GP Prancis, Aprilia Menang Banyak di Le Mans
Langkah Desak kemudian berlanjut ke perempat final menghadapi atlet Amerika Serikat, Isis Rothfork. Sempat kehilangan momentum menjelang finis, Desak tetap mampu mengamankan kemenangan dengan waktu 7,61 detik.
Tantangan berat datang di semifinal saat Desak berhadapan dengan atlet Polandia, Aleksandra Kalucka. Desak sebenarnya tampil cukup baik dengan catatan 6,33 detik, tetapi Aleksandra mampu melesat lebih cepat dan menang dengan waktu 6,09 detik.
Gagal ke final membuat Desak harus bertarung memperebutkan medali perunggu melawan Natalia Kalucka, juga dari Polandia.
Baca Juga: Kobbie Mainoo Catat 100 Penampilan Bersama Manchester United
Pada perebutan podium itu, Desak tampil agresif sejak start dan sukses mengamankan kemenangan lewat catatan waktu 6,17 detik, sementara Natalia mencatat 6,38 detik.
Medali emas nomor speed putri diraih Aleksandra Kalucka, sedangkan perak menjadi milik atlet netral perorangan (AIN), Elizaveta Ivanova.
Meski berhasil naik podium, Desak mengaku belum puas dengan performanya di Wujiang. Ia menilai masih banyak hal yang harus diperbaiki untuk menghadapi seri berikutnya.
Baca Juga: Bali United FC dalam Motivasi Tinggi Menghadapi Borneo FC, Berharap Ulangi Kemenangan Putaran Pertama
"Ini bukan hasil terbaik. Tapi, apa pun harus saya syukuri dan jadi bahan evaluasi," ujar Desak.
Sementara itu, tim speed putra Indonesia belum berhasil menyumbangkan medali. Raharjati Nursamsa sempat menunjukkan performa menjanjikan setelah mengalahkan Kiromal Katibin di babak 16 besar dengan waktu 4,77 detik.
Namun langkahnya terhenti di perempat final usai terpeleset saat menghadapi wakil tuan rumah, Long Jianguo.
Baca Juga: Anfield Beri Sorakan Cemooh, Arne Slot Maklumi Kemarahan Suporter Liverpool
Nasib serupa dialami Veddriq Leonardo. Setelah menyingkirkan Hryhorii Ilchyshyn dari Ukraina, Veddriq gagal melaju lebih jauh karena mengalami fall ketika menghadapi Samuel Watson dari Amerika Serikat di delapan besar.
Aditya Tri Syahria juga harus terhenti di babak 16 besar setelah kalah dari atlet Thailand, Aphiwit Limpanichpakdee. Aditya kehilangan momentum menjelang finis dan hanya mencatatkan waktu 7,00 detik.
Pada nomor speed putra, China mendominasi dengan merebut medali emas yang diraih Zhao Yicheng dan perak yang menjadi milik Long Jianguo. Sementara perunggu diraih oleh Samuel Watson.
Baca Juga: Hansi Flick Emoh Ambil Pusing Krisis Real Madrid
Asisten Pelatih Speed Indonesia, Fitriyani, menilai seri Wujiang memberikan gambaran jelas mengenai ketatnya persaingan speed dunia saat ini. Ia mengatakan tim pelatih akan menjadikan hasil tersebut sebagai bahan evaluasi di Pelatnas.
"Kami akan terus berbenah karena seri Wujiang ini benar-benar memberi gambaran tentang pekerjaan rumah kami di Pelatnas," katanya.
Pada disiplin lainnya, di lead, Indonesia juga belum berhasil menembus podium. Putra Tri Ramadani yang sebelumnya tampil impresif di babak kualifikasi harus terhenti di semifinal nomor lead putra.
Baca Juga: Luciano Spalletti Sebut Juventus Bikin Sulit Diri Sendiri
Putra menempati peringkat kesembilan semifinal dengan skor 36+, sehingga gagal melaju ke final. Padahal sebelumnya ia tampil meyakinkan di babak kualifikasi dengan finis di posisi keempat dan mencatatkan top pada jalur pertama.
Meski langkahnya terhenti, pencapaian Putra tetap menjadi sinyal positif bagi perkembangan nomor lead Indonesia di level dunia. Ia menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang mampu menembus semifinal pada nomor lead di Wujiang.
Pelatih lead timnas Indonesia, Amri, menilai pengalaman di Wujiang penting untuk meningkatkan kualitas atlet, terutama dalam aspek mental dan konsistensi pemanjatan di level elite dunia.
Artikel Terkait
Kasus Pelecehan Seksual di Pelatnas Panjat Tebing Masuk Ranah Hukum, Pemerintah Dorong Perbaikan Sistem Pembinaan
Timnas Panjat Tebing Siap Rebut Tiket Asian Games di Kejuaraan Asia 2026
16 Atlet Panjat Tebing Indonesia di Kejuaraan Asia 2026
Atlet Panjat Tebing Indonesia Dilirik Turki, FPTI Pastikan Loyalitas Tetap untuk Merah Putih
Fokus Mental dan Chemistry, Galar Pandu Asmoro Ubah Pendekatan Timnas Panjat Tebing