lain-lain-olimpik

Atlet Kaltim Soroti Permenpora Nomor 14 Tahun 2024, Pembinaan Bisa Mandek

Kamis, 3 Juli 2025 | 06:10 WIB
Tim Hoki Kalimantan Timur bahkan harus patungan untuk membeli minuman saat berlatih.

SportlinkNews - Kebijakan Permenpora Nomor 14 Tahun 2024 dirasakan berdampak luas, meski belum diberlakukan.

Bukan hanya KONI Provinsi dan Kabupaten/Kota yang merasakan langsung peraturan yang ditanda tangani Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia itu. Tapi, juga berimbas kepada para atlet.

Atlet angkat berat putri 47kg Kalimantan Timur Widari menyebut peraturan tersebut bisa bikin mandek pembinaan atlet di daerah.

Baca Juga: Permenpora Nomor 14 Tahun 2024 Bikin Resah, KONI Kabupaten/Kota Kalimantan Timur Minta Dicabut

Widari sontak menolak Permenpora Nomor 14 Tahun 2024. Terlebih adanya pasal 16 yang menegaskan agar tenaga profesional, pengurus serta perangkat organisasi olahraga prestasi seperti KONI, tidak dapat menerima hak dari APBN maupun APBD.

“Ya tidak bisa begitulah, nanti enggak jalan pembinaannya. Tidak ada orang yang ingin jadi atlet,” tegas Widari peraih medali emas PON XXI Aceh-Sumut 2024.

Baca Juga: Masyarakat Olahraga Prestasi Indonesia Gugat Permenpora Nomor 14/2024 Ke Mahkamah Agung

Atlet berusia 32 tahun berharap Menpora Dito mencabut Permenpora Nomor 14 Tahun 2024. Ia merasa peraturan tersebut bisa merugikan para atlet dan pembinaan tidak berjalan dengan baik.

“Saya sebagai atlet berharap Permenpora itu dicabut. Nanti saya tidak dapat pembinaan, saya dirugikan sebagai atlet. Pastinya tidak ada yang mau menjadi atlet nantinya, karena tidak ada pembinaannya,” sambung Widari pemecah rekor nasional dan PON dengan total angkatan 505 kg.

“Bubarlah olahraga ini,” tegasnya membayangkan.

Selain menjadi atlet, Widari juga merupakan seorang staf KONI Kalimantan Timur yang bertugas menjaga pusat kebugaran (gym).

Baca Juga: Seragam Tandang Baru Milan 2025-26 Bocor dengan Logo yang Diubah

Kerap kali, Widari berbagi dengan atlet lainnya bagaimana menggunakan peralatan kebugaran yang baik. Widari harus menjadi atlet dan bekerja demi kebutuhannya untuk berbakti kepada keluarga sebagai anak sulung.

“Saya tulang punggung keluarga. Bapak saya sudah tidak bisa kerja, sakit stroke. Tiap bulan harus rawat jalan. Dua adik saya sudah kerja, tapi ada 2 lagi yang saya tanggung bersama orang tua kami,” jelas Widari tentang tanggung jawabnya kepada orang tua dan adik.

Halaman:

Tags

Terkini