lain-lain-olimpik

Atlet Kaltim Soroti Permenpora Nomor 14 Tahun 2024, Pembinaan Bisa Mandek

Kamis, 3 Juli 2025 | 06:10 WIB
Tim Hoki Kalimantan Timur bahkan harus patungan untuk membeli minuman saat berlatih.

Kisah mereka yang hidup dari olahraga, bukan hanya Widari sehingga dapat dikatakan Permenpora Nomor 14 Tahun 2024, mampu mengancam pendapatan para Patriot Olahraga yang telah bekerja keras.

Beranjak ke atlet lainnya. Atlet Hoki Putri Kalimantan Timur, Sri Wulandari juga merasa dirugikan jika Permenpora Nomor 14 Tahun 2024 diberlakukan Oktober 2025 nanti.

Baca Juga: Hasil Kualifikasi Piala Asia 2026: Garuda Pertiwi Kuasai Bola Tapi Pakistan Cetak Dua Gol

yang mana telah menjadi juara pada PON XX/2021 Papua dan berhasil mempertahankan gelar tersebut pada PON XXI Aceh-Sumut 2024.

“Permenpora itu lebih baik ditiadakan saja, karena menurut saya seperti fisioterapi dan pelatih serta lain-lain (tenaga profesional, pengurus & perangkat organisasi) itu kalau haknya dicabut dari KONI tentu sangat merugikan sekali untuk atlet," ungkap Sri Wulandari.

"Apalagi untuk kemajuan atlet di masa depan itu gimana? Menurut saya sih sepertinya itu tidak usah dilaksanakan,” imbih peraih medali emas PON XX Papua 2021 dan PON XXI Aceh-Sumut 2024.

Widari menilai KONI memiliki peran strategis. Komitmennya terhadap pembinaan prestasi atlet tidak diragukan.

Baca Juga: Tempuh Perjalanan 20 Jam Lebih, Kiper Anyar Persib Adam Przybek Mulai Latihan

“Peran KONI penting sekali, banyaklah yang sudah dilakukan untuk mendukung kesuksesan (para atlet) sampai saat ini,” katanya sembari merujuk berbagai fasilitas latihan, hingga pekerjaan.

Wulan pun menjelaskan peran KONI Kalimantan Timur yang begitu terasa manfaatnya bagi atlet.

“Pengalaman saya sendiri sebagai atlet itu, saya selalu ditolong misalnya saya berapa kali cedera dibantu oleh fisioterapi dan lain-lain, dan itu kan termasuk kerja di KONI,” jelas mahasiswi Psikologi.

Ketika tenaga profesional tersebut terdampak Permenpora Nomor 14/2024, Wulan pun khawatir.

Baca Juga: Dari Silat ke Sepak Bola: Kisah Octavianti Dwi Menjadi Jantung Garuda Pertiwi

“Itu kurang bagus sih, apalagi mereka itu kerja membantu atlet. Jika mereka tidak disupport dengan seperti tidak digaji, itu tentu tidak baik,” terangnya.

Ancaman terhadap kehadiran pelatih pun disinggung. Pasalnya, pelatih selama ini hidup dari dana APBD.

Halaman:

Tags

Terkini