SportlinkNews - Kabar duka datang dari dunia balap Indonesia. Salah satu legenda balap nasional, Dokter Hery Agung Setianto meninggal dunia di usia 60 tahun.
Dokter Hery wafat sekitar pukul 19.00, Senin (3/6), di RS Kariadi Semarang usai mengeluh sakit. Hal itu disampaikan sang adik yang juga seorang dokter, dr. Hery Unggul.
Totalitas dokter Hery Agung pada dunia balap tidak perlu diragukan lagi, baik di balap roda dua maupun empat. Torehan prestasinya sangat banyak.
Baca Juga: Charles Leclerc Tampil dengan Desain Helm Khusus di F1 GP Jepang, Hormati Mendiang Jules Bianchi
Dokter Hery Agung terjun ke balap motor untuk pertama kalinya. Selanjutnya beliau menekuni balap motocross. Namun dokter Hery mulai populer saat menekuni balap mobil.
Turun pertama kali di kelas slalom, prestasinya langsung menonjol. Tidak heran jika dirinya kemudian direkrut tim slalom Suara Merdeka Semarang.
Tidak puas di slalom, dokter jebolan Universitas Diponegoro 1983 ini kemudian menjajal kelas sprint rally dan rally.
sprintBaca Juga: Jaket Motor Keren dengan Perlindungan Airbag, Lolos Uji Reli Terganas di Dunia
Dirinya bergabung dengan tim Bosowa milik Sadikin Aksa dan membalap bersama navigator Hade Mboi.
Pria ramah ini selalu menolak untuk diliput atau ditulis wartawan lantaran tidak mau ketahuan instansinya kalau dirinya seorang pembalap.
Meski begitu, keramahan dokter Hery Agung dikenal setiap orang yang ada di paddock. Apalagi karier balapnya terus menjulang.
Baca Juga: Lancia akan Kembali ke Dunia Reli, Bawa Ypsilon Hatchback untuk Rally4
Balap drag race pun turut dilakoninya. Karena prestasinya yang konsisten, dokter Hery kemudian diajak bergabung ke tim drag paling elit pada masa itu, Firna Protehnik, milik mendiang Gunawan Tjandra.
Di drag race namanya berkibar kencang apalagi setelah mencetak rekor tercepat drag race 402 meter di Sirkuit Sentul dengan menggunakan Nissan Fairlady.
Artikel Terkait
Mengapa Amerika Serikat Menyebut Sepak Bola dengan 'Soccer'? Ini Penjelasannya
Mengapa Bola Basket Populer di Filipina? Ini Dia Sejarah, Budaya, dan Dampaknya
Indonesia Open 2024: Menunggu Drama Seru dan Menarik dari Istora
Komisi X dan III DPR Menyetujui Naturalisasi Calvin Verdonk dan Jens Raven