SportlinkNews - Olahraga tidak hanya menguatkan otot, tapi ternyata juga mengubah cara kerja otak. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa peningkatan daya tahan yang bertahan lama dari latihan berulang seperti kemampuan berlari lebih jauh dan lebih cepat seiring waktu melibatkan perubahan aktivitas otak yang membantu otot dan jantung menjadi lebih kuat.
Para peneliti dari Universitas Pennsylvania ingin memahami fenomena ini lebih dalam. Mereka meneliti bagaimana aktivitas otak berubah setelah olahraga dan bagaimana perubahan tersebut memengaruhi kemampuan tubuh untuk beradaptasi.
“Banyak orang bilang mereka merasa lebih tajam dan pikiran lebih jernih setelah berolahraga,” ujar J. Nicholas Betley, penulis korespondensi studi ini.
Baca Juga: Adriano dan Roberto Baggio Muncul di San Siro Jelang Duel Inter Milan vs Juventus
Dalam percobaan mereka, Betley dan tim memperhatikan bahwa tikus menunjukkan peningkatan aktivitas otak setelah berlari di treadmill, terutama pada sel saraf di area ventromedial hypothalamus (VMH). Wilayah otak ini berperan penting dalam penggunaan energi tubuh, termasuk mengatur berat badan dan kadar gula darah.
Dengan memantau aktivitas saraf tikus, tim menemukan sekelompok sel saraf tertentu di VMH, yang disebut neuron steroidogenic factor-1 (SF1), menjadi aktif saat tikus berlari. Neuron ini juga tetap aktif setidaknya satu jam setelah tikus selesai berlari.
Setelah latihan harian selama dua minggu, tikus menunjukkan peningkatan daya tahan. Mereka mampu berlari lebih cepat dan lebih lama sebelum kelelahan. Saat peneliti meninjau otak tikus, terlihat lebih banyak neuron SF1 yang aktif, dengan tingkat aktivitas yang jauh lebih tinggi dibanding awal latihan.
Ketika aktivitas neuron SF1 diblokir dan sinyalnya tidak bisa dikirim ke bagian otak lain, tikus cepat lelah dan tidak menunjukkan peningkatan daya tahan selama periode dua minggu latihan.
Yang mengejutkan para peneliti, memblokir neuron SF1 hanya setelah latihan juga mencegah peningkatan daya tahan, meskipun neuron berfungsi normal saat latihan. Temuan ini menunjukkan peran penting aktivitas SF1 setelah berolahraga.
“Ketika kita angkat beban, kita pikir hanya membangun otot. Ternyata kita mungkin juga membangun otak kita saat berolahraga,” ujarnya.
Baca Juga: Kemenangan Manchester City Kontra Salford Tak Buat Guardiola Terpukau
Meski mekanisme pastinya belum jelas, Betley menyebut neuron SF1 aktif pasca-latihan mungkin membantu tubuh pulih lebih cepat dengan memanfaatkan glukosa yang tersimpan secara lebih efisien. Hal ini memungkinkan bagian tubuh lain seperti otot, paru-paru, dan jantung yang menyesuaikan diri lebih cepat terhadap latihan berat.
Betley berharap penelitian ini suatu hari bisa membantu orang tua atau pasien pemulihan pascastroke tetap aktif, sekaligus memberi manfaat bagi atlet atau orang muda yang pulih dari cedera.