Para suporter Indonesia yang marah melemparkan botol air minum dari tribun ke lapangan. Setelah peluit akhir dibunyikan, seorang staf tim nasional Indonesia bahkan menyerang wasit, yang memicu kartu merah.
Segera setelah tersingkir, pelatih Kluivert merasa ia akan dipecat, dan berkata, "Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana masa depan saya."
Ia kemudian kembali ke Indonesia dan langsung menuju Belanda. Akhirnya, ia meninggalkan tim nasional Indonesia. Hal itu secara efektif merupakan pemecatan.
Baca Juga: Shin Tae-yong Berstatus Tanpa Klub, Akankah Kembali ke Timnas Indonesia?
Penunjukan Kluivert menuai kontroversi yang cukup besar. Ketua Umum PSSI Erik Thohir telah memperbarui kontrak Shin Tae-yong tahun lalu hingga 2027, tetapi tiba-tiba memecatnya pada bulan Januari, menggantikannya dengan Kluivert.
Keputusan ini memicu reaksi keras di Indonesia. Meskipun Kluivert adalah striker legendaris selama masa bermainnya, ia belum banyak berprestasi sebagai pelatih.
Saat itu, PSSI menjelaskan keputusan tersebut dimotivasi oleh keinginan untuk menjalin hubungan dengan pemain-pemain naturalisasi Eropa, terutama dari Belanda.
Baca Juga: Tren Positif Berlanjut, Fajar/Fikri dan Rian/Rahmat ke Perempat Final Denmark Open 2025
Namun, Kluivert justru menambahkan sejumlah besar pemain naturalisasi, sehingga membentuk tim yang seluruhnya terdiri dari pemain-pemain naturalisasi, namun gagal lolos ke Piala Dunia. Pada akhirnya, keputusan Thohir terbukti gagal dan para penggemar sangat menantikan kepergian Kluivert.
'#PatrickOut' memperoleh dukungan 91,8% (48.614 suara), sementara '#PatrickKeep' hanya memperoleh 8,2% (4.364 suara). Survei ini dilakukan secara transparan. Tidak ada bias atau penyuntingan."
Segera setelah pengumuman resmi PSSI keluar, para penggemar Indonesia bergembira.
Baca Juga: Pemerintah Tambah Anggaran SEA Games 2025 Hingga 6 Kali Lipat, 700–800 Atlet Siap Dikirim
Hal ini menunjukkan betapa buruknya sentimen publik terhadap pelatih Kluivert. Penampilan pelatih Kluivert dan pelatih Shin Tae-yong juga diperbandingkan.
Selama kualifikasi Piala Dunia, Kluivert memiliki rasio kemenangan 33,3% (2 menang, 4 kalah) dalam enam pertandingan. Yang mengkhawatirkan adalah ia kebobolan 15 gol dan hanya mencetak lima gol.
Tiga di antaranya penalti, dan hanya dua yang berasal dari permainan terbuka. Inilah filosofi 'sepak bola total'-nya."
Artikel Terkait
PSSI Akhiri Kerja Sama dengan Patrick Kluivert
Shin Tae-yong Berstatus Tanpa Klub, Akankah Kembali ke Timnas Indonesia?
Jan Olde Riekerink Nilai Taktik Patrick Kluivert Bikin Timnas Indonesia Terpuruk
Adidas Luncurkan Koleksi Signature Terbaru Jude Bellingham
Hansi Flick Menginspirasi Perubahan Posisi Bek Barcelona
FC Twente Tawarkan Kontrak Baru untuk Mees Hilgers, Begini Reaksi Bek Timnas Indonesia