timnas

Herdman Ubah Pola Main Timnas Indonesia demi Piala Dunia 2030

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:53 WIB
Calvin Verdonk menjadi starter saat Lille menekuk Nantes 1-0.

SportlinkNews - Timnas Indonesia mulai membangun arah baru permainan dalam proyek jangka panjang menuju FIFA World Cup 2030.

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman menilai, seluruh program yang dijalankan saat ini, termasuk agenda FIFA Series, merupakan bagian dari proses membentuk identitas baru skuad Garuda.

Menurutnya, FIFA Series bukan sekadar ajang uji coba biasa.

Baca Juga: Kapan Messi, Ronaldo, dan Neymar akan bertemu di Piala Dunia 2026?

Herdman melihat turnamen tersebut sebagai ruang penting untuk membangun fondasi permainan sekaligus mengukur kesiapan pemain menghadapi level kompetisi yang lebih tinggi di masa depan.

"Semuanya merupakan rekayasa terbalik dari Piala Dunia 2030. Itu misi saya. Saya selalu melihat seperti apa tim ini dalam empat tahun ke depan dan bagaimana kami bisa berkembang ke arah sana," tutur Herdman di Jakarta, 22 Mei 2026.

Pelatih asal Kanada itu mengaku puas dengan perkembangan awal Timnas Indonesia, terutama dalam hal fleksibilitas permainan.

Baca Juga: Ronaldo Menangis Tersedu-sedu Saat Memenangkan Trofi Pertama Al-Nassr

Ia mulai menerapkan sistem yang lebih dinamis, termasuk kemampuan berganti formasi dari empat bek menjadi tiga bek sesuai situasi pertandingan.

Selain itu, Herdman juga mulai mencoba beberapa pemain di posisi berbeda demi menutup celah dalam struktur permainan tim. Salah satunya adalah Calvin Verdonk yang dinilai mampu memberi solusi tambahan di lini tengah.

Menurut Herdman, para pemain menunjukkan respons positif terhadap pendekatan baru yang diterapkannya. Ia bahkan terkesan dengan kemampuan pemain menyerap instruksi hanya dalam waktu persiapan yang sangat singkat.

Baca Juga: I.League Susun Kalender Kompetisi Lebih Awal, Super League Bergulir September 2026

"Kami hanya punya dua hari persiapan dan dua sesi latihan bersama beberapa pemain seperti Ragnar dan Calvin. Tetapi mereka mampu memahami informasi dengan sangat cepat," imbuhnya.

Meski demikian, Herdman menilai Timnas Indonesia masih memiliki pekerjaan besar di sektor penyerangan.

Ia melihat permainan Garuda sudah cukup baik saat membangun serangan dari lini belakang hingga area tengah, tetapi produktivitas di sepertiga akhir lapangan masih menjadi kelemahan utama.

Baca Juga: PP 46/2024 Tuai Tafsir Berbeda, KONI Pastikan Badan Fungsional Tetap Diakui

"Kami bermain bagus di dua pertiga lapangan, tetapi di sepertiga akhir masih ada jarak yang besar," ungkapnya.

Herdman juga menolak anggapan bahwa masalah utama Indonesia hanya terletak pada minimnya striker murni. Menurutnya, persoalan terbesar justru ada pada pola pikir tim yang terlalu bergantung pada satu pencetak gol.

Pelatih berusia 50 tahun itu ingin membangun mentalitas bahwa semua pemain memiliki tanggung jawab menyerang dan mencetak gol, tidak hanya penyerang tengah.

Baca Juga: Pep Guardiola Resmi Berpisah dengan Manchester City Tinggalkan 20 Trofi dalam Satu Dekade

"Indonesia membutuhkan mentalitas bahwa semua pemain bisa mencetak gol. Bek sayap, gelandang, sampai bek tengah harus punya keberanian masuk ke area mencetak gol," tegas Herdman.

Ia menilai Timnas Indonesia sebelumnya terlalu pasif dalam bermain, terutama saat transisi menyerang. Karena itu, ia ingin skuad Garuda lebih agresif dengan menciptakan keunggulan jumlah pemain di area pertahanan lawan.

Herdman menegaskan aspek pergerakan tanpa bola, timing masuk ke kotak penalti, dan keberanian menyerang ruang akan menjadi fokus utama dalam training camp berikutnya.

Baca Juga: Indonesia Turunkan Sembilan Wakil di Singapore Open 2026

Ia juga mengaku sudah berbicara dengan kelompok pemain senior untuk membantu mempercepat perubahan mentalitas tersebut.

"Kami harus punya lebih banyak pemain yang mau menyerang kotak penalti dan percaya bahwa mereka bisa mencetak gol. Kami akan menutup kesenjangan itu dalam pemusatan latihan ini," pungkasnya.

Tags

Terkini