Usai Menjadi Juara Welter UFC, Islam Makhachev Ungkap Penyesalan Terbesarnya

Muhammad Zaki Fajrul Haq, Sportlink News
- Selasa, 25 November 2025 | 23:00 WIB
Islam Makhachev menyesal terlambat naik ke kelas welter UFC dan mengungkap alasannya usai menang di UFC 322. (X.COM/OMEROSMAN200)
Islam Makhachev menyesal terlambat naik ke kelas welter UFC dan mengungkap alasannya usai menang di UFC 322. (X.COM/OMEROSMAN200)

SportlinkNews - Islam Makhachev mengungkapkan rasa penyesalan karena terlambat naik ke kelas welter UFC, sebuah keputusan yang sebenarnya sudah ia pertimbangkan sejak masih mendominasi divisi ringan.

Selama bertahun-tahun, keinginan untuk pindah ke kelas yang lebih natural bagi tubuhnya terus muncul, namun baru benar-benar terwujud ketika ia menantang Jack Della Maddalena pada pertengahan November lalu.

Performa Makhachev di kelas welter langsung menunjukkan hasil positif.

Baca Juga: Coros Pace 4 Jam Tangan untuk Aktivitas Bersepeda dan Olahraga Outdoor Dilengkapi Mikropon Internal

Kondisi fisiknya disebut jauh lebih baik, dan ia mampu menundukkan Della Maddalena sebelum akhirnya dinobatkan sebagai penguasa baru divisi tersebut.

Pengalaman bertarung di UFC 322 itu membuatnya menyadari satu hal: ia merasa terlambat mengambil keputusan pindah kelas, meski penyesalan itu bukan dalam konteks negatif.

Dalam pernyataannya kepada Championat, petarung asal Dagestan itu menyinggung bagaimana proses pemangkasan berat badan di kelas ringan menjadi beban yang menyulitkan.

Baca Juga: Persib Siap Tempur Hadapi Lion City Sailors, Marc Klok: Kami Datang untuk Menang

Ia mengaku kerap kelelahan karena harus menjaga bobot tubuh agar tetap sesuai batas divisi.

“Tidak, tentu saja tidak. Saat saya memulai karier, saya punya impian untuk menembus 15 besar,” ujarnya.

Ia melanjutkan bahwa ambisinya selalu berkembang seiring berjalannya waktu.

Baca Juga: Indonesia Panaskan Mesin Menuju SEA Games 2025: Cabor Unggulan Turun Target, Fokus pada Regenerasi dan Efektivitas

“Saya punya impian untuk menghadapi petarung-petarung terbaik... Kemudian, sedikit demi sedikit saya bisa menembus 15 besar, 10 besar, lalu menjadi juara.”

Pada titik itulah ia mulai mempertimbangkan naik kelas untuk bertarung di bobot yang dianggapnya lebih ideal.

Halaman:

Editor: Muhammad Zaki Fajrul Haq

Sumber: Championat

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X