SportlinkNews - Sebuah studi terbaru bertajuk "Foot Strike Patterns in Elite Marathon Runners During Major Competitions: A 2023 Analysis" mengungkap fakta menarik terkait pola hentakan kaki (foot strike) para pelari maraton elit dunia.
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa tidak ada pola hentakan kaki yang secara umum "terbaik". Namun, yang ada adalah pola paling efisien dan aman bagi masing-masing individu pelari.
Temuan ini menantang asumsi umum bahwa pelari harus berfokus pada satu jenis hentakan kaki tertentu. Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pelari elit memiliki variasi pola berdasarkan kebutuhan tubuh dan gaya lari mereka.
Baca Juga: Timnas Indonesia Cetak Rekor Penonton Terbanyak di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia
Dari hasil pengamatan pada kompetisi maraton besar internasional, pola hentakan kaki pada bagian tengah kaki (midfoot strike) menjadi yang paling dominan di kalangan pelari maraton elit.
Pola ini diyakini mampu mengoptimalkan efisiensi gerakan sekaligus menekan risiko cedera selama lomba panjang dan berintensitas tinggi.
Namun menariknya, sekitar 89 persen pelari elit tetap menggunakan rearfoot strike (heel strike), atau menghentakkan bagian tumit terlebih dahulu saat menyentuh tanah.
Baca Juga: Joey Pelupessy: Jepang Kuat, Tapi Timnas Indonesia Siap Bertarung di Kualifikasi Piala Dunia
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun midfoot lebih umum, heel strike tetap menjadi pilihan signifikan di kalangan atlet papan atas, kemungkinan besar karena kebiasaan, bentuk kaki, atau teknik latihan.
Sementara itu, forefoot strike atau hentakan bagian depan kaki tercatat lebih jarang digunakan oleh pelari maraton elit.
Penelitian juga menemukan bahwa para pelari elit mempertahankan irama langkah yang tinggi, rata-rata sekitar 185 langkah per menit, secara konsisten dari awal hingga akhir lomba.
Baca Juga: Kualifikasi Piala Dunia 2026: Jepang Siap Hadapi Indonesia, Moriyasu Waspadai Jay Idzes dan Lini Serang Garuda
Irama tinggi ini diyakini berperan penting dalam meningkatkan efisiensi lari dengan mengurangi waktu kontak kaki dengan tanah dan menekan gaya benturan yang bisa memicu cedera.
Lebih lanjut, tidak ditemukan variasi signifikan dalam irama langkah sepanjang lomba, menunjukkan bahwa para pelari elit memiliki konsistensi dan kestabilan ritme yang luar biasa, bahkan di bawah tekanan fisik lomba maraton.
Studi ini memberikan wawasan penting bagi pelatih, atlet, maupun praktisi kebugaran tentang pentingnya pemahaman personal terhadap gaya lari.
Baca Juga: Final NBA 2025: Janji Haliburton di Gim 3 Final NBA
Tidak ada pola hentakan yang secara mutlak terbaik, melainkan pola yang paling sesuai dengan biomekanik tubuh, riwayat latihan, dan adaptasi individu.
Para peneliti menyarankan agar penelitian di masa depan fokus pada faktor-faktor yang memengaruhi preferensi pola hentakan kaki, serta dampaknya terhadap performa dan risiko cedera dalam jangka panjang.
Dengan semakin berkembangnya teknologi analisis biomekanik, harapannya adalah muncul pendekatan yang lebih personal dalam melatih dan mengembangkan performa pelari.
Bukan hanya berdasarkan teori umum, tetapi juga berdasarkan karakteristik unik tubuh dan gaya lari masing-masing individu.