China Kuasai Australia Open 2026 Lewat Tiga Gelar Juara

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Minggu, 14 Juni 2026 | 22:47 WIB
Spesialis ganda campuran, Feng Yan Zhe berteriak merayakan kemenangannya. Bersama partnernya Huang Dong Ping, ia akhirnya keluar sebagai juara Australia Open 2026.
Spesialis ganda campuran, Feng Yan Zhe berteriak merayakan kemenangannya. Bersama partnernya Huang Dong Ping, ia akhirnya keluar sebagai juara Australia Open 2026.

SportlinkNews - China tampil sebagai kekuatan dominan di Australia Open 2026.

Negeri Tirai Bambu sukses merebut tiga dari lima gelar yang diperebutkan untuk memastikan status juara umum sekaligus menegaskan supremasi mereka di pentas bulu tangkis dunia.

Keberhasilan tersebut datang dari nomor ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Bahkan di sektor ganda campuran, China memastikan gelar juara jauh sebelum pertandingan final dimulai setelah menciptakan partai puncak sesama wakil mereka.

Baca Juga: Sinergi Manajemen dan Shin Tae-yong, Persija Mulai Rancang Jadwal Latihan dan Uji Coba

Pasangan unggulan pertama Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping berhadapan dengan rekan senegara sekaligus unggulan kedua, Guo Xin Wa/Chen Fang Hui, dalam laga yang berlangsung di Quaycentre Olympic Boulevard, Sydney, Minggu, 14 Juni 2026.

Dalam duel yang sarat permainan taktis dan reli panjang tersebut, Feng/Huang mampu menunjukkan pengalaman mereka pada momen-momen penting.

Pasangan peringkat atas dunia itu menutup pertandingan dalam dua gim langsung, 21-17, 21-19, untuk mengamankan gelar ganda campuran Australia Open 2026.

Baca Juga: Bantai Paraguay 4-1, Kapten Amerika Serikat Ingatkan Tim Tetap Membumi

Kemenangan tersebut terasa lebih spesial karena menjadi akhir dari periode sulit yang mereka alami sepanjang beberapa bulan terakhir.

Setelah menjuarai Malaysia Open pada Januari lalu, Feng/Huang gagal mencapai final dalam lima turnamen beruntun dan sempat menelan hasil mengecewakan di Singapore Open serta Indonesia Open.

"Penampilan kami belakangan ini belum sepenuhnya ideal. Namun, meskipun hasilnya kurang memuaskan, mentalitas kami berhasil disesuaikan tepat waktu selama turnamen ini," kata Feng.

Baca Juga: Sudahi Penantian 36 Tahun, Skotlandia Bersiap Lawan Brasil dan Maroko

Menurut Feng, faktor utama kemenangan di final bukanlah strategi yang rumit, melainkan kemampuan menjaga fokus saat pertandingan memasuki fase-fase penentuan.

Mengingat kedua pasangan sudah sangat mengenal karakter permainan masing-masing, aspek mental menjadi pembeda utama.

"Kedua belah pihak sudah sangat memahami gaya permainan satu sama lain. Pada dasarnya, ini bergantung pada siapa yang tampil sedikit lebih baik pada hari itu," ungkapnya.

Baca Juga: Sudahi Penantian 36 Tahun, Skotlandia Bersiap Lawan Brasil dan Maroko

Huang Dong Ping juga menilai gim pertama menjadi titik krusial yang mengubah jalannya pertandingan.

Ketika mereka berhasil meningkatkan tempo permainan menjelang akhir gim pembuka, momentum tersebut terus terjaga hingga akhirnya mengantar mereka menuju kemenangan.

"Di gim pertama, menjelang akhir, kecepatan kami meningkat cukup signifikan. Pada gim kedua lawan menaikkan tempo, sementara kami sempat kehilangan sedikit energi, sehingga muncul beberapa kesalahan sendiri," kata Huang.

Baca Juga: Tampil Apik, Pembalap Indonesia Aldi Mahendra Finis Ketiga WorldSSP di Misano

Gelar itu menjadi trofi Australia Open kedua bagi Huang setelah sebelumnya meraih prestasi serupa pada 2019.

Lebih dari sekadar gelar, kemenangan di Sydney menjadi suntikan kepercayaan diri menjelang padatnya agenda turnamen pada paruh kedua musim, termasuk Japan Open, China Open, Kejuaraan Dunia, dan Asian Games.

Sementara China mendominasi sektor ganda, gelar tunggal putri justru menjadi milik Jepang.

Baca Juga: Grup D Piala Dunia 2026: Paraguay Mencoba Mengulang Prestasi Piala Dunia 2010

Unggulan pertama Akane Yamaguchi menandai kebangkitannya dengan menjuarai Australia Open setelah mengalahkan unggulan kedua asal Thailand, Pornpawee Chochuwong.

Yamaguchi harus bekerja keras untuk mengamankan kemenangan. Pertarungan berlangsung ketat sejak awal dengan Chochuwong beberapa kali memberikan tekanan melalui kombinasi permainan cepat dan reli-reli panjang.

Namun, pengalaman serta ketenangan Yamaguchi dalam menghadapi poin-poin kritis menjadi faktor yang menentukan.

Baca Juga: Suporter Edan! Gowes Sepeda 25.000 Km Demi Mendukung Jerman di Piala Dunia 2026

Halaman:

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Sumber: bwfbadminton.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X