Gymnastics Indonesia Open 2025 Jadi Ajang Pembibitan Atlet Muda Menuju Level Dunia

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Rabu, 9 Juli 2025 | 23:33 WIB
Para peserta Kejuaraan Gymnastics Indonesia Open 2025, nomor  artistik bersiap bersaing di GOR Senam DKI Jakarta, 9 Juli 2025. Kejuaraan ini mempertandingkan 5 nomor dari 2-13 Juli nanti.  (Gymnastic Indonesia)
Para peserta Kejuaraan Gymnastics Indonesia Open 2025, nomor artistik bersiap bersaing di GOR Senam DKI Jakarta, 9 Juli 2025. Kejuaraan ini mempertandingkan 5 nomor dari 2-13 Juli nanti. (Gymnastic Indonesia)

SportlinkNews - Kejuaraan Gymnastics Indonesia Open 2025 diharapkan bisa menjadi ajang pembinaan untuk atlet muda menuju level dunia. Kejuaraan yang memasuki edisi keempat ini diikuti oleh 1.372 atlet dari 90 klub dan 19 provinsi, sejak 2-13 Juli mendatang. 

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Marciano Norman dalam sambutannya mengapresiasi antusiasme para peserta, khususnya atlet-atlet usia dini yang menjadi cikal bakal masa depan olahraga senam Indonesia.

"Hal yang menarik dari kejuaraan ini adalah mayoritas pesertanya adalah atlet-atlet usia dini. Mereka adalah masa depan Indonesia yang suatu saat akan mengharumkan nama bangsa di multi-event internasional," kata Marciano.

Baca Juga: Indonesia Incar Status Tuan Rumah Youth Olympic Games 2030

Kelak, menurutnya, mereka bisa menjadi kontributor emas. Membuat peringkat Indonesia di Olimpiade bisa naik signifikan.

Ia menambahkan, senam merupakan salah satu cabang strategis yang banyak dipertandingkan di event besar seperti Olimpiade, sehingga butuh pembinaan yang kuat dan berjenjang.

"Kita sudah punya cabang kuat seperti panjat tebing, angkat besi, dan bulu tangkis. Ke depan, senam, atletik, dan renang harus menyusul sebagai lumbung medali," katanya.

Baca Juga: Jumlah Atlet SEA Games Masih Ditinjau, Finalisasi Ditetapkan Agustus

Sementara itu, Ketua Umum PB Persani, Ita Yuliati, menjelaskan bahwa Gymnastics Indonesia Open 2025 mempertandingkan lima disiplin senam, yakni trampolin (2-3 Juli), ritmik (4-6 Juli), artistik (8-11 Juli), aerobik dan parkour (11-13 Juli), dengan cabang parkour digelar terpisah di Bandung, Jawa Barat.

Ita menekankan bahwa kejuaraan ini bukan hanya sekadar kompetisi, melainkan juga sarana penjaringan talenta potensial yang bisa diproyeksikan ke pelatnas dan ajang internasional, salah satunya Asian Youth Games. 

"Kami terus memantau perkembangan atlet dari tahun ke tahun. Tidak hanya siapa yang menang, tapi juga siapa yang konsisten dan berkembang. Semua itu akan jadi pertimbangan untuk diproyeksikan ke pelatnas," ungkap Ita.

Baca Juga: Terungkap: Penyebab Mbappe Alami Gastroenteritis yang Bikin Berat Badannya Turun 6kg

Peningkatan jumlah peserta tahun ini juga menjadi indikator positif bagi pembinaan olahraga senam di Tanah Air.

"Tahun ini antusiasmenya luar biasa. Ini bukti pembinaan di daerah mulai masif dan senam semakin diminati," tambahnya.


Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X