SportlinkNews - Atlet senam Amerika Serikat, Donnell Whittenburg, akhirnya menorehkan sejarah pribadi setelah berhasil meraih medali emas pertamanya di ajang Kejuaraan Dunia Senam Artistik FIG ke-53.
Emas tersebut ia peroleh dalam nomor senam palang yang digelar di Indonesia Arena, Jumat, 24 Oktober 2025.
Whittenburg tampil gemilang dengan total 14,700 poin, unggul tipis atas Adem Asil dari Turki yang meraih 14,566 poin, dan Xingyu Lan dari China yang menempati posisi ketiga dengan 14,500 poin.
Baca Juga: Erick Thohir Tegaskan Indonesia Tidak Akan Keluar dari AFC
Kemenangan ini menjadi pencapaian terbesar bagi atlet berusia 31 tahun tersebut setelah bertahun-tahun berjuang di level dunia.
Sebelumnya, prestasi terbaik Whittenburg adalah dua medali perunggu, masing-masing di nomor beregu pada tahun 2014 dan di lompatan kuda pada edisi 2015.
"Saya tidak bisa lebih bahagia lagi dengan pencapaian ini," ujar Whittenburg usai pertandingan.
Baca Juga: Tanpa Hansi Flick dan Robert Lewandowski, Barcelona Terancam Tumbang di Bernabeu
"Kemenangan ini memberi saya kepercayaan diri yang luar biasa. Selama ini saya tahu kemampuan saya, hanya menunggu momen untuk membuktikannya."
Pada babak kualifikasi, Whittenburg sempat menempati posisi kedua di belakang Xingyu Lan dengan perolehan poin yang sama, yakni 14,700. Namun di final, ketenangan dan konsistensinya menjadi pembeda.
Whittenburg berharap kemenangan ini akan menjadi batu loncatan menuju target besarnya, yakni Olimpiade 2028 Los Angeles.
Baca Juga: Kunlavut Vitidsarn Hentikan Langkah Alwi Farhan di French Open 2025
"Saya akan terus berusaha sekeras mungkin untuk mewujudkan mimpi itu. Segalanya mungkin terjadi selama Anda tidak berhenti mencoba," katanya penuh semangat.
Sementara itu, Adem Asil mengaku puas dengan medali perak yang diraihnya. Ia menilai kerja keras dan persiapan matang menjadi kunci keberhasilannya menembus tiga besar.
"Saya hanya bekerja sekeras mungkin. Kali ini, saya benar-benar siap," ucapnya singkat.
Baca Juga: Adidas Rilis Ulang Jersey Ikonik Arsenal 1992–1994, Simbol Kejayaan Era Highbury
Berbeda dengan Asil, Xingyu Lan justru menunjukkan kekecewaan usai gagal mempertahankan posisi puncaknya di babak final.
"Saya sedikit gugup hari ini. Saya berharap bisa meraih emas, tapi tekanan itu membuat saya kurang maksimal," ungkapnya.
Bagi Whittenburg, medali emas di Jakarta bukan sekadar trofi, tetapi bukti bahwa kerja keras dan ketekunan akhirnya membuahkan hasil.
"Saya tahu di mana posisi saya di antara yang terbaik di dunia. Hari ini, saya akhirnya bisa menunjukkannya," tutupnya.