SportlinkNews - Target mempertahankan tradisi medali emas membuat Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) mulai menyusun langkah akhir menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Salah satu kebutuhan yang kini didorong adalah menggelar training camp (TC) di China, negara yang dinilai mampu memberikan kualitas latihan terbaik bagi atlet taolu maupun sanda Indonesia.
Harapan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PB WI, Ngatino, saat menerima kunjungan Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026, Todotua Pasaribu, di Pelatnas Wushu, GBK Arena Senayan, Jakarta, Selasa, 21 Juli.
Baca Juga: Bernardo Tavares Soroti Adaptasi Pemain Asing Baru Persebaya
Menurut Ngatino, pengalaman menjelang Asian Games Hangzhou 2022 membuktikan bahwa pemusatan latihan di China memberikan dampak positif terhadap kesiapan atlet Indonesia.
Karena itu, PB WI berharap program serupa dapat kembali difasilitasi sebelum keberangkatan ke Aichi-Nagoya.
"Kami berharap tim wushu kembali mendapat kesempatan menjalani TC di China seperti sebelum Asian Games Hangzhou. Program itu sangat membantu persiapan atlet menghadapi persaingan di Asian Games," kata Ngatino.
Baca Juga: Chelsea Kenalkan Jersey Tandang Terbarunya dengan Didominasi Warna Gelap
Ia menjelaskan manfaat TC tersebut berbeda bagi setiap nomor yang dipertandingkan.
Untuk atlet taolu, berlatih bersama para atlet China dinilai mampu meningkatkan motivasi sekaligus kualitas penampilan karena dapat menyerap standar teknik dari negara yang menjadi kiblat wushu dunia.
Sementara bagi atlet sanda, keberadaan lawan latih dengan level internasional menjadi kebutuhan yang sulit dipenuhi selama berlatih di Indonesia.
Baca Juga: Tinggalkan Yamaha Setelah 8 Tahun, Fabio Quartararo Sepakati Kontrak Bareng Honda
"Atlet sanda membutuhkan lawan tanding yang sepadan untuk mengukur kemampuan sekaligus mengenali berbagai karakter bertarung yang kemungkinan akan dihadapi di Asian Games," tuturnya.
"Kesempatan seperti itu hanya bisa diperoleh jika mereka berlatih di China."
PB WI sendiri memasang target mempertahankan tradisi medali emas yang telah diraih Indonesia dalam dua edisi Asian Games terakhir.
Baca Juga: Simbol Kesetiaan Persija Jakarta, Andritany Ardhiyasa Tambah Masa Bakti
Pada Asian Games Jakarta 2018, wushu menyumbangkan satu medali emas, satu perak, dan tiga perunggu melalui Lindswell Kwok sebagai penyumbang emas.
Empat tahun kemudian di Hangzhou 2022, Indonesia kembali membawa pulang satu emas, dua perak, dan dua perunggu dengan Haris Horatius menjadi peraih medali emas.
Menanggapi usulan tersebut, Todotua memastikan akan mengupayakan koordinasi dengan NOC Indonesia dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), mengingat kebutuhan anggaran berada di kedua institusi tersebut.
Baca Juga: Kevin Keegan Wafat, Duka Bagi Sepak Bola Inggris
"Kami akan mencoba mengupayakannya. Nanti saya koordinasikan dengan NOC Indonesia dan Kemenpora karena penganggarannya ada di sana," tukasnya.
Meski persoalan fasilitas masih akan dibahas, Todotua meminta para atlet tetap memusatkan perhatian pada program latihan yang sedang dijalani. Menurutnya, urusan dukungan dan pelayanan kontingen akan menjadi tanggung jawab tim CdM.
"Fokus saja menjalani latihan. Kami akan berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk seluruh atlet yang akan memperkuat Kontingen Indonesia," ujarnya.
Baca Juga: Jhon Duran Bergabung dengan Benfica, Jadi Klub Ketujuh dalam Kariernya
Untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Indonesia menyiapkan 11 atlet yang terdiri atas lima atlet taolu dan enam atlet sanda.
Di nomor taolu, sektor putra diperkuat Seraf Naro Siregar, Terrence Tjahyadi, Ahmad Ghozali Fuaiz, Andrea Simon, dan Rainer Reinaldy Ferdiansyah, sedangkan sektor putri diwakili Patrice Geraldine dan Eugenia Diva Widodo.
Adapun nomor sanda akan diperkuat Tharisa Dea Florentina (52 kg putri), Thania Kusumaningtyas (60 kg putri), Fereddy Sinaga (56 kg putra), Bintang Reindra Nada Guitara (60 kg putra), Samuel Marbun (65 kg putra), serta Jumanta (70 kg putra).