SportlinkNews - Malam masih terlelap tidur. Kusnan Wartoyo bersimut di sofa. Yang lainnya di kamar masing-masing. Angin diluar lagi 'genit' menggoda. Bikin tubuh rapuh dalam pelukan selimut.
"Serba salah, nggak bisa tidur. Dinginnya bukan main," ujar Kusnan sambil menarik selimut.
Waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB. Suhu udara 8 derajat celcius. Di home stay Camelia, Dieng, Jawa Tengah. Dinginnya tak bisa diajak kompromi. Benar-benar menusuk tulang.
Tak ada yang berani keluar rumah. Kabut menggantung seperti selimut tipis yang belum ingin beranjak. Saya sesekali mengintip dari balik jendela.
Baca Juga: Gasperini Frustrasi: Performa Roma Makin Jeblok
"Berangkat jam 04.00. Nggak jadi ke Bukit Sikunir. Kita menunggu sunrise di Sikapuk," kata Aak Sofian, Panitia Tour Nilamers, warga Nilam 1-2 Komplek Permata Depok.
Pukul empat pagi bukan waktu yang tepat untuk mencari matahari. Setidaknya begitu pikiran saya ketika tiga bus mini mulai bergerak menuju Bukit Sikapuk, Dieng.
Di luar, dunia masih gelap. Tak ada kehidupan. Rumah-rumah tertidur. Jalanan sepi. Lampu kendaraan jadi teman perjalanan. Di luar jendela, pegunungan Dieng hanya terlihat sebagai bayangan.
Baca Juga: Duel Tyson Fury vs Anthony Joshua Akan Digelar pada Hari Kerja; Muncul Tanggal Baru
Tak lebih dari 40 orang --paruh baya yang berlaga masih muda - bergerak memberanikan diri melawan keadaan. Hawa dingin yang tak ketulungan. Di sebuah tempat terbuka dengan suhu yang sanggup membuat gigi beradu tanpa aba-aba.
Ada yang terus berdekap. Ada yang merokok. Ada yang menggerakkan jari-jari tangan. Ada juga yang kembali memilih berselimut. Bertahan di homestay karena takut dingin.
Di satu sudut lainnya melepas tawa. Memecah keheningan di pagi buta. Obrolan mereka ngawur ngidul. Lucu-lucuan untuk melawan dingin yang tak kompromi.
Baca Juga: Chelsea Cukur AC Milan 3-0, Xabi Alonso Puji Penampilan Palestra yang Terus Membaik
“Dingin banget, tidur ayam, bolak balik kedinginan," kata Darmono teman sekamar saya.