Dengan mikroskop berdaya tinggi, tim juga melihat bahwa neuron tikus diet ketogenik memiliki lebih sedikit vesikel berisi sinyal eksitatori dibanding tikus diet biasa. Vesikel adalah kantong kecil yang melepaskan neurotransmiter ke sel tetangga.
Baca Juga: MotoGP Bakal Terapkan Aturan Standar Gaji Minimum Pembalap Kelas Utama
Perubahan jumlah vesikel ini konsisten dengan modifikasi aktivitas gen yang diamati sebelumnya. Temuan ini memberi pemahaman konkret tentang bagaimana diet ketogenik bekerja di level seluler.
Ashrafi menekankan bahwa meniru efek molekuler ini melalui obat atau intervensi lain bisa menghasilkan manfaat anti-kejang tanpa harus menjalani diet ketat.
"Banyak hubungan antara diet dan penyakit yang bisa membawa strategi pengobatan baru jika kita memahaminya lebih dalam," kata Ashrafi.
Baca Juga: Timnas Futsal Putri di Ujung Tanduk usai Imbang 4-4 Lawan Malaysia di Piala AFF 2026
"Dalam kasus ini, jika kita bisa meniru perubahan molekuler yang membuat neuron menghasilkan lebih sedikit vesikel, kita bisa meniru efek anti-kejang tanpa harus mengubah diet pasien secara drastis," Ashrafi melanjutkan.
Pemahaman ini membuka harapan baru bagi pasien epilepsi yang kesulitan mengikuti diet ketogenik penuh. Terobosan ini bisa menjadi langkah awal pengembangan terapi anti-kejang yang lebih mudah diterapkan dan tetap efektif.
Yuk, gabung di channel whatsapp sportlinknews.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru. Klik di sini (JOIN)
Artikel Terkait
Mengapa Makanan Bertepung Kurang Baik untuk Diet? Ini Penjelasannya
Cristiano Ronaldo Disebut Siap Diet Ketat untuk Piala Dunia 2030
Paddy Pimblett Ungkap Alasan Konsumsi Es Krim Usai Jalani Diet Ketat Jelang UFC 314
Manfaat Kopi Americano untuk Diet dan Olahraga: Fakta dan Tips Konsumsi
Mau Hidup Lebih Lama? Studi Ini Tunjukkan Manfaat Diet Sehat