Manajemen Nutrisi Jadi Kunci Performa Pemain Bola Selama Ramadan

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Senin, 23 Februari 2026 | 16:47 WIB
Skuat Persib jalani latihan jelang laga melawan Malut United FC (Persib)
Skuat Persib jalani latihan jelang laga melawan Malut United FC (Persib)

SportlinkNews - Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan dinamika tersendiri bagi umat Islam, termasuk pesepak bola profesional yang tetap harus berlatih dan bertanding di tengah kewajiban berpuasa.

Perubahan pola makan, waktu istirahat, hingga asupan cairan menjadi tantangan nyata bagi atlet yang menggantungkan performa pada kondisi fisik prima.

Dalam kajian yang dimuat di Aspetar: Sports Medicine Journal berjudul Ramadan and Football (2023), Fuad Al Mudahka dan tim peneliti menekankan pentingnya manajemen nutrisi selama Ramadan.

Baca Juga: Deco Pertegas Akan Melepas 2 Pemain Barcelona Ini

Mereka menyebutkan, atlet yang berpuasa harus mampu menjaga keseimbangan asupan gizi agar performa tetap optimal meskipun terjadi perubahan signifikan dalam rutinitas harian.

Secara umum, atlet disarankan makan tiga kali sehari dengan komposisi gizi seimbang.

Namun selama Ramadan, waktu makan terbatas pada malam hari sehingga pola tersebut berubah menjadi dua kali makan utama, yakni sahur sebelum fajar dan berbuka setelah matahari terbenam.

Baca Juga: 10 Pemain Muda Terbaik Dunia, Nomor 1 Bukan Kejutan

Pergeseran ini membuat seluruh asupan energi dan cairan dipusatkan pada malam hari selama kurang lebih 30 hari.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi keseimbangan energi pemain, terutama jika tidak dikelola dengan tepat. Risiko kekurangan nutrisi bisa muncul bukan karena minimnya jumlah kalori, melainkan akibat pilihan makanan yang kurang bervariasi.

Dalam praktiknya, menu berbuka sering kali didominasi makanan tinggi lemak, gula, dan garam.

Baca Juga: Kiper West Ham Mendadak Jadi DJ Kejutan di Pub

Sejumlah studi bahkan menemukan bahwa asupan kalori saat berbuka dapat setara dengan dua kali makan besar, tetapi belum tentu menjamin kecukupan zat gizi makro maupun mikro.

Bagi pesepak bola profesional, persoalannya bukan sekadar menahan lapar dan haus. Sepak bola menuntut intensitas tinggi, yakni lari berulang, duel fisik, serta konsentrasi penuh sepanjang pertandingan.

Kekurangan cairan saja dapat berdampak pada penurunan fokus, kecepatan reaksi, hingga daya tahan otot.

Baca Juga: Landucci: Milan Tidak Beruntung Melawan Parma, Bola Tidak Mau Masuk

Karena itu, peran pelatih dan ahli gizi menjadi sangat penting.

Atlet dianjurkan mengonsumsi makanan dengan komposisi makronutrien seimbang, yakni karbohidrat sebagai sumber energi utama, protein untuk membantu pemulihan otot, serta lemak sehat dalam porsi terkontrol.

Pola makan sebaiknya dibagi dalam porsi sedang dengan jeda teratur sepanjang malam. Penambahan camilan ringan sebelum atau sesudah latihan juga dapat membantu menjaga ketersediaan energi sekaligus mendukung proses pemulihan.

Baca Juga: Hansi Flick Menanggapi Kemarahan Lamine Yamal Usai Digantikan Melawan Levante

Di sejumlah negara Timur Tengah seperti Qatar, tradisi berpuasa bagi atlet sudah berlangsung sejak usia muda, bahkan mulai 10 hingga 12 tahun.

Pengalaman tersebut membuat banyak pemain mengembangkan strategi adaptasi masing-masing, baik dari sisi fisik maupun mental.

Meski demikian, dampak puasa tetap bersifat individual. Ada pemain yang mampu mempertahankan performa, sementara lainnya mengalami penurunan stamina atau konsentrasi.

Baca Juga: Persaingan Serie A untuk Liga Champions Semakin Memanas Setelah Akhir Pekan Dramatis bagi Milan, Napoli & Juventus

Halaman:

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Sumber: aspetar

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Berjalan Kaki Bisa Menyebabkan Gula Darah Naik?

Sabtu, 8 Februari 2025 | 13:09 WIB
X