nutrisi

Diet Ketogenik Tidak Sekadar Makanan, Dapat Redakan Kejang Epilepsi

Kamis, 26 Februari 2026 | 07:02 WIB
Ilustrasi Diet Ketogenik. (Shutterstock)

SportlinkNews - Diet ketogenik telah lama dikenal mampu mengurangi kejang pada sebagian pasien epilepsi. Namun, mekanisme pasti di balik efek ini baru mulai terungkap.

Peneliti dari Washington University School of Medicine di St. Louis menemukan diet ini mengubah cara sel otak berkomunikasi satu sama lain. Akibatnya, sinyal antar-neuron menjadi lebih tenang, menekan lonjakan listrik yang memicu kejang. Hasil penelitian dipublikasikan di Cell Reports.

Ghazaleh Ashrafi, Ph.D., asisten profesor Departemen Biologi Sel dan Fisiologi WashU Medicine sekaligus peneliti utama, mengatakan temuan ini membuka peluang terapi baru bagi pasien epilepsi.

Baca Juga: Program Unggulan Kemenpora 2026, dari Youth Camp hingga Dana Pensiun

"Pikiran kami adalah melaju hingga akhir pada setiap kompetisi. Itu sudah kami lakukan selama bertahun-tahun," ujar Ashrafi, menekankan pentingnya memahami mekanisme diet untuk mencari cara baru mengendalikan kejang.

Biasanya, diet ketogenik ketat diterapkan pada anak-anak dengan epilepsi yang tidak merespons obat standar. Dalam banyak kasus, 90% kalori harian harus berasal dari lemak agar diet efektif.

Dengan kepatuhan penuh, diet ini terbukti menurunkan frekuensi kejang hingga sekitar 50% pada beberapa pasien. Meski begitu, sebagian besar pasien sulit mempertahankan diet ketat, dan sedikit penyimpangan bisa menghilangkan manfaatnya.

Baca Juga: Prediksi Real Madrid Vs Benfica: Tanpa Mourinho, Mbappe Diragukan

Diet tinggi lemak ini memicu hati menghasilkan keton, senyawa yang digunakan neuron sebagai bahan bakar pengganti glukosa. Mekanisme ini sebelumnya diyakini menjadi kunci efek anti-kejang, namun rincian perubahan yang terjadi di otak belum diketahui.

Ashrafi dan timnya ingin mengidentifikasi perubahan spesifik pada neuron akibat keton, sebagai dasar untuk terapi anti-kejang yang lebih praktis dibandingkan diet ketat penuh.

Penelitian dilakukan pada tikus yang diberi pelet tinggi lemak. Tim, termasuk Gabor Egervari, MD, Ph.D. dan Vitaly A. Klyachko, Ph.D., mempelajari aktivitas gen di hippocampus, bagian otak tempat kejang sering dimulai.

Baca Juga: Usai Putus dengan Bintang F1, Model Ini Unggah Foto Seksi Berpakaian Dalam

Mereka menemukan ratusan perubahan genetik, banyak di antaranya terkait dengan sinaps, ujung sel otak yang mengirim pesan antar-neuron. Temuan ini menjadi titik awal untuk meneliti perilaku sinaps secara lebih rinci.

Hasil pengukuran menunjukkan, sinyal eksitatori yang mengaktifkan neuron menurun, sementara sinyal inhibitori meningkat. Efek keseluruhan: komunikasi antar-neuron menjadi lebih lemah, menjelaskan bagaimana diet ketogenik bisa menenangkan aktivitas listrik penyebab kejang.

Halaman:

Tags

Terkini

Berjalan Kaki Bisa Menyebabkan Gula Darah Naik?

Sabtu, 8 Februari 2025 | 13:09 WIB