Para peneliti belum bisa memastikan mekanisme pastinya. Namun mereka menduga peserta mendapat dorongan dopamin kedua dari hadiah tak terduga. Sebaliknya, jika peserta sudah yakin akan mendapat hadiah, mereka tidak mengalami lonjakan dopamin kedua setelah beep.
Baca Juga: Terhenti di Semifinal German Open, Wakil Indonesia Bidik Perbaikan Jelang All England
“Efek ini tidak hanya terkait penerimaan hadiah. Jika hasil sudah pasti dan diketahui peserta, kami tidak melihat peningkatan energi lebih lanjut,” ucap Korbisch.
Pengalaman sebelumnya juga memengaruhi gerakan. Jika peserta mendapat hadiah beruntun, mereka bergerak lebih cepat. Jika terus gagal, mereka melambat.
Hal ini penting karena banyak kondisi medis memengaruhi gerakan. Penderita depresi, misalnya, cenderung bergerak lebih lambat. Ahmed membayangkan suatu hari, tren gerakan seperti ini bisa digunakan tenaga medis untuk memantau kesehatan pasien dari bulan ke bulan atau tahun ke tahun.
“Jika hari Anda menyenangkan, langkah Anda lebih cepat. Jika hari buruk, Anda bergerak lebih lambat. Itulah yang disebut ‘skip in your step’—langkah yang terasa lebih ringan saat bahagia,” ungkap Ahmed.
Yuk, gabung di channel whatsapp sportlinknews.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru. Klik di sini (JOIN)