Sibuk Kerja? Cukup Olahraga di Akhir Pekan untuk Cegah Demensia dan Stroke

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Minggu, 2 Maret 2025 | 15:35 WIB
ilustrasi, parapekerja yang memilih berolahraga di akhir pekan (Pejuang Akhir Pekan).
ilustrasi, parapekerja yang memilih berolahraga di akhir pekan (Pejuang Akhir Pekan).

SportlinkNews - Terkadang buat orang kantoran, kesibukan di hari kerja membuat mereka tak sempat berolahraga. Hal itu mereka biasanya memilih untuk melakukan olahraga di akhir pekan.

Apakah manfaatnya sama dengan yang diterima dengan orang yang berolahraga tiap hari, khususnya untuk kesehatan otak?

Jawabannya, iya. Individu yang melakukan sebagian besar aktivitas fisik mereka selama satu atau dua hari dalam seminggu (pejuang akhir pekan), juga akan mendapatkan manfaat kesehatan otak yang sama dengan mereka yang berolahraga secara teratur.

Baca Juga: Kunjungi Samarinda, Persis Solo Mencoba Memetik Kemenangan dari Borneo FC

Menurut penelitian baru yang diterbitkan pada 29 Oktober di British Journal of Sports Medicine, pejuang akhir pekan menunjukkan penurunan risiko yang sama untuk mengalami gangguan kognitif ringan dengan mereka yang berolahraga sepanjang minggu.

Bahkan, pejuang akhir pekan juga akan mengalami penurunan risiko demensia, stroke, penyakit Parkinson, kecemasan, dan depresi, yang sebanding dengan jadwal olahraga yang lebih tradisional.

Entah karena tanggung jawab pekerjaan atau keluarga, banyak orang mungkin merasa bahwa mereka memiliki lebih sedikit waktu untuk berolahraga dan beraktivitas di waktu senggang selama seminggu, dan menyisakan waktu tersebut untuk akhir pekan.

Baca Juga: Pelatih dan Bek Persib U16 Akademi Persib Terbang ke Spanyol Ikuti Program EPA Future Stars

Tapi bisakah Anda benar-benar mendapatkan manfaat kesehatan yang sama ketika menjejalkan olahraga mingguan ke dalam periode waktu yang lebih singkat. Jawabannya tentu saja.  

Penelitian observasional tersebut menggunakan data survei dari Mexico City Prospective Study dari tahun 1998 sampai 2004 dan sekali lagi dari tahun 2015 dan 2019. Sekitar 10.033 orang dengan usia rata-rata 51 tahun diikutsertakan dalam analisis, termasuk:

    * 7.945 responden yang melaporkan bahwa mereka tidak berolahraga
    * 1.362 orang yang berolahraga beberapa kali dalam seminggu
    * 726 yang berolahraga hanya pada akhir pekan

Baca Juga: Prawira Bandung Siap Hadapi IBL 2025 di Bulan Ramadan, David Singleton Pastikan Persiapan Optimal

Selama periode pemantauan 16 tahun, para peneliti mengidentifikasi 2.400 kasus gangguan kognitif ringan (MCI), yang sering kali mendahului demensia.

Di antara mereka yang tidak berolahraga, prevalensi MCI adalah 26% dibandingkan dengan 18,8% di antara mereka yang secara teratur aktif secara fisik dan 14% di antara para pejuang akhir pekan.

Meskipun penelitian yang lebih ketat diperlukan untuk mengkonfirmasi efek perlindungan dari olahraga terhadap kesehatan otak, para peneliti menyajikan beberapa penjelasan.

"Sebagai contoh, olahraga dapat meningkatkan konsentrasi faktor neurotropik yang berasal dari otak (molekul yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup neuron) dan plastisitas otak," tulis mereka.

Baca Juga: Napoli 1-1 Inter: Billing Pertahankan Persaingan Scudetto Tetap Terbuka

Aktivitas fisik ini juga dikaitkan dengan volume otak yang lebih besar, fungsi eksekutif yang lebih besar, dan memori yang lebih besar.

Temuan itu menunjukkan bahwa dari perspektif kesehatan, tubuh mungkin tidak membedakan antara olahraga harian atau aktivitas yang lebih sporadis, selama rekomendasi aktivitas fisik mingguan terpenuhi: setidaknya 150 menit aktivitas intensitas sedang per minggu.

"Ini benar-benar tentang volume, bukan polanya," kata Shaan Khurshid, MD, MPH, ahli elektrofisiologi jantung di Rumah Sakit Umum Massachusetts. Khurshid lah yang meneliti soal pejuang akhir pekan dan hasil penyakit kardiovaskular.

Baca Juga: EPA Future Star Camp 2025, 18 Pemain Muda Indonesia Berlatih di Klub Spanyol, Siap Jadi Bintang Masa Depan

"Ada banyak potensi untuk mempelajari lebih lanjut tentang pola 'pejuang akhir pekan'. Jadi, ini merupakan perluasan alami untuk melihat kesehatan otak dengan cara yang sama dengan apa yang kami lakukan pada kesehatan kardiovaskular," kata Khurshid.

Para peneliti membagi peserta berdasarkan pola latihan ini ke dalam salah satu dari tiga kelompok:

1. Tidak aktif: Berpartisipasi dalam kurang dari 150 menit per minggu yang direkomendasikan untuk aktivitas fisik sedang hingga berat.

2. Aktif Secara Teratur: Berpartisipasi dalam 150 menit atau lebih aktivitas fisik sedang hingga berat per minggu.

3. Pejuang Akhir Pekan: Berpartisipasi dalam 150 menit atau lebih aktivitas fisik sedang hingga berat per minggu, dengan lebih dari separuh aktivitasnya dilakukan dalam 1-2 hari.

Baca Juga: German Open 2025: Rehan/Gloria Hadapi Tantangan Berat di Final, Siap Mati-matian

Setelah disesuaikan dengan faktor kesehatan dan gaya hidup, tingkat penurunan risiko untuk kondisi tertentu di antara para pejuang akhir pekan adalah signifikan di semua kondisi.

    * demensia: 23%
    * stroke: 13%
    * Penyakit Parkinson: 49%
    * Depresi: 26%
    * kecemasan: 28%

"Ada orang yang mungkin enggan berolahraga karena mereka berpikir bahwa mereka harus melakukannya secara teratur," ungkap Brad Donohue, PhD, pencipta The Optimum Performance Program in Sports (TOPPS).

"Dan penelitian ini tampaknya menunjukkan bahwa jika kita dapat meluangkan waktu untuk melakukan satu atau dua hari olahraga ringan hingga berat, hal itu akan memberikan manfaat kesehatan yang sangat signifikan," tambahnya.

Baca Juga: Marc Klok: Persib Harus Bangkit, 9 Laga Lagi Semua Final

Namun harus diakui ada risiko yang terkait dengan menjadi pejuang olahraga di akhir pekan, yakni lebih rentan cedera. Karena memusatkan aktivitas fisik dalam waktu yang singkat.

Ada potensi kerugian dari melakukan aktivitas dengan volume yang sangat tinggi dalam waktu yang singkat, terutama jika kita tidak terbiasa dengan pola tersebut. 

Halaman:

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Sumber: healthline.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X