“Kalau Olimpiade mau dijadikan tujuan utama, maka sistem dan struktur SEA Games harus kembali ke khitahnya,” ujar Sadik.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Peluncuran Tim Balap MotoGP 2026, Italia Jadi Tempat Favorit
Sadik juga menyoroti persoalan anggaran olahraga nasional. Ia mengungkapkan bahwa dalam Undang-Undang Keolahragaan Nomor 11 Tahun 2022, pernah diusulkan alokasi anggaran olahraga hingga 2,5 persen dari APBN. Namun realisasinya saat ini masih berkisar di angka 0,02 persen.
Menanggapi hal itu, Lalu Hadrian Irvani menyatakan Komisi X DPR tengah menyiapkan revisi Undang-Undang Keolahragaan yang direncanakan mulai dibahas pada 2026. Revisi tersebut diharapkan dapat mengatur secara lebih tegas soal dukungan anggaran dan pembinaan prestasi atlet.
Lalu juga menegaskan pentingnya pembinaan atlet muda, pemetaan bakat nasional, serta penguatan pelatnas sebagai persiapan menuju Olimpiade 2028. Menurutnya, Indonesia sebagai negara besar masih memiliki banyak potensi atlet yang belum tergali secara maksimal.
Baca Juga: Tiga Gol PSIM Rusak Momen Bahagia Madura United, Van Gastel: Kami Diuntungkan Dua Kartu Merah
Sementara itu, Sadik menekankan pentingnya penerapan sistem long term athlete development (LTAD), yakni pembinaan jangka panjang yang tidak hanya fokus pada prestasi saat aktif bertanding, tetapi juga pendidikan dan kesejahteraan atlet setelah pensiun. Sistem tersebut dinilai telah berhasil diterapkan di sejumlah negara maju olahraga.
Sadik mencontohkan keberhasilan bulu tangkis Indonesia yang telah menjalankan prinsip LTAD, terlihat dari munculnya atlet muda berusia 18–20 tahun yang mampu bersaing dan meraih prestasi. Selain bulu tangkis, cabang olahraga seperti angkat besi, panjat tebing, judo, dan sepatu roda juga dinilai memiliki potensi besar di level Olimpiade.
Nigara menambahkan tantangan terbesar olahraga Indonesia adalah konsistensi proses. Ia menilai olahraga kerap terjebak pada target jangka pendek seperti PON dan SEA Games, sehingga mengorbankan pembinaan jangka panjang.
Baca Juga: Wajah Baru PB PSTI, Siap Gelar Liga Sepak Takraw Indonesia Demi Peningkatan Prestasi Atlet
“Olahraga itu proses, bukan hasil instan. Dengan anggaran terbatas saja prestasi bisa naik, apalagi kalau dikelola dengan sistem yang kuat,” ucapnya.
Nigara juga menekankan olahraga harus dipandang sebagai investasi negara, bukan beban anggaran. Menurutnya, bendera Merah Putih hanya berkibar di panggung dunia melalui dua jalur, yakni diplomasi kenegaraan dan prestasi olahraga.
"Anggaran harus dilegitimasi di undang-undang. Sentra pembinaan minimal 10 lokasi, dengan pengawasan ketat. Atlet harus dijamin pendidikannya, kehidupannya, dan masa depannya."
Baca Juga: Jadwal Pertandingan Serie A Pekan ke-20, Inter Milan akan Ditantang Napoli
"Kita juga harus fokus pada cabang unggulan. Tidak semua bisa dikejar sekaligus. Negara seperti Korea Selatan dan Jepang fokus pada sekitar 15 cabang. Jika konsisten, target 5 besar Olimpiade bukan hal mustahil."
Artikel Terkait
Debut Brilian Martina Ayu Pratiwi Koleksi Medali Terbanyak di SEA Games 2025 Thailand
Bonus Emas (Tunggal) SEA Games 2025 Naik Dua Kali Lipat, Tertinggi Sepanjang Masa
Prestasi Berbuah Pangkat, Atlet TNI SEA Games 2025 Dapat Bonus Ganda dari Negara
Dari Luka SEA Games, Ana/Trias Bangkit di Malaysia Open 2026 dan Tumbangkan Unggulan Kedua
Kemenpora Gandeng BRI Gelar Literasi Keuangan untuk Atlet Peraih Bonus SEA Games 2025