SportlinkNews - Perburuan gelar MVP NBA musim 2025-2026 memasuki fase paling genting. Bukan semata soal statistik atau posisi klasemen, tetapi soal ketersediaan bermain yang kini menjadi penentu utama nasib para kandidat.
Sejak musim 2023-2024, NBA menetapkan syarat minimal 65 pertandingan musim reguler untuk pemain yang ingin masuk pertimbangan penghargaan individu, termasuk MVP dan All-NBA.
Dengan total 82 gim, artinya seorang pemain tak boleh absen lebih dari 17 laga.
Baca Juga: Terhenti di Semifinal German Open, Wakil Indonesia Bidik Perbaikan Jelang All England
Situasi inilah yang kini membayangi dua nama teratas dalam tangga Kia MVP: Shai Gilgeous-Alexander dan Nikola Jokic. Keduanya memimpin peringkat efisiensi pemain (PER), namun sama-sama berada di batas toleransi absensi.
Gilgeous-Alexander sudah melewatkan 11 pertandingan musim ini akibat cedera otot perut. Itu berarti ia wajib tampil setidaknya dalam 16 dari 22 laga tersisa demi menjaga peluang mempertahankan gelar MVP.
Sementara Jokic berada dalam posisi lebih riskan. Center andalan Denver telah absen 16 kali. Dua ketidakhadiran tambahan saja akan langsung menggugurkannya dari persaingan.
Baca Juga: Cedera Lutut Mbappe Bisa Ganggu Performa Prancis di Piala Dunia 2026
Duel langsung keduanya di Paycom Center, kandang Oklahoma City Thunder, menjadi momen krusial.
Thunder dijadwalkan menghadapi Denver Nuggets tiga kali sebelum musim berakhir, dan laga-laga ini bisa menjadi pembeda jika persaingan MVP tetap setipis sekarang.
Dalam kontestasi yang nyaris seimbang, performa head-to-head kerap meninggalkan kesan kuat bagi pemilih. Jika salah satu tampil dominan di panggung yang sama, momentum psikologis bisa berubah drastis.
Baca Juga: Lelah Tak Kunjung Hilang? Waspadai Sindrom Kelelahan Kronis (ME/CFS)
Namun tantangan yang mereka hadapi berbeda. Jokic harus berhadapan dengan tembok pertahanan OKC yang dihuni pemain bertubuh jangkung seperti Chet Holmgren dan Isaiah Hartenstein.
Sementara itu, Gilgeous-Alexander, yang rata-rata mencetak hampir 32 poin per gim dengan efisiensi tinggi, berpotensi menghadapi lini bertahan Nuggets yang sedang pincang akibat cedera.
Di tengah tekanan itu, muncul pula kritik terhadap aturan 65 pertandingan. Bintang Giannis Antetokounmpo dari Milwaukee Bucks mempertanyakan ketatnya regulasi tersebut. Ia sendiri telah absen 27 laga dan otomatis tak memenuhi syarat.
Baca Juga: Setiap Pertemuan Versus Real Madrid Jadi Pelajaran Berharga Manchester City
Menurut Giannis, margin kesalahan terlalu sempit. Satu cedera saja bisa menghapus peluang sepanjang musim, bahkan bagi pemain yang tampil dominan saat sehat.
Sementara itu, nama-nama lain mulai mengintip dari belakang. Cade Cunningham membawa Detroit Pistons bersaing di papan atas Timur lewat performa konsisten pasca-All-Star.
Victor Wembanyama tampil eksplosif bersama San Antonio Spurs, bahkan menguat sebagai kandidat Defensive Player of the Year. Sementara Luka Doncic terus menjaga level elite bersama Los Angeles Lakers.
Baca Juga: KONI Pusat Finalisasi Skema PON 2028: Mempertandingkan 57 Cabang Olahraga, DKI Jakarta Resmi Jadi Penyangga
Meski begitu, sorotan utama tetap tertuju pada dua kandidat teratas.
Jika keduanya mampu memenuhi ambang batas pertandingan, maka tiga duel tersisa Thunder kontra Nuggets, termasuk pertemuan 10 April mendatang berpotensi menjadi panggung penentuan.
Perburuan MVP musim ini tampaknya bukan hanya soal siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang paling mampu bertahan. Di bulan Maret yang menentukan, kesehatan dan konsistensi bisa sama berharganya dengan triple-double.
Artikel Terkait
Cedera dan Aturan 65 Pertandingan Mengancam Status MVP Jokic
Bukan Lagi Opsi Kedua, Jaylen Brown Masuk Elite MVP NBA
Shai Gilgeous-Alexander Ambil Alih Puncak Kia MVP Ladder dari Nikola Jokic
Cedera Tak Geser Shai dari Puncak MVP Ladder
Menuju MVP NBA 2026: SGA Unggul, Jokic Terus Menekan