SportlinkNews - Nama Tjetjep Firmansyah tidak bisa dipisahkan dari salah satu periode paling berwarna dalam perjalanan klub besar Aspac Jakarta.
Di tangan pelatih yang dikenal tenang tetapi tegas itu, Aspac bukan sekadar menjadi tim papan atas, melainkan juga tempat lahir dan berkembangnya sejumlah pemain yang kemudian menjadi bagian penting dari bola basket Indonesia.
Tjetjep meninggal dunia pada usia 67 tahun di Rumah Sakit Polri, Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 10.00 WIB. Kepergiannya meninggalkan jejak panjang yang salah satunya terukir kuat bersama Aspac.
Baca Juga: Kekuatan Indonesia Bertambah, 14 Wakil Siap Tempur di Kejuaraan Dunia 2026
Hubungan Tjetjep dengan Aspac berlangsung selama bertahun-tahun. Ia mulai menangani klub tersebut pada 2000 dan menjadi bagian dari era kejayaan Aspac di kompetisi nasional.
Bersamanya, Aspac meraih empat gelar, masing-masing dua gelar Kobatama pada musim 2000-2001 dan 2002-2003 serta dua gelar Indonesian Basketball League (IBL) pada 2003-2004 dan 2005-2006.
Namun, warisan Tjetjep di Aspac tidak berhenti pada deretan trofi. Ia dikenal sebagai pelatih yang memberikan perhatian besar terhadap perkembangan pemain. Salah satu kisah yang menggambarkan pendekatannya datang dari Denny Sumargo.
Baca Juga: Timo Ingin Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara Jadi Inspirasi Anak Perempuan
Saat Denny bergabung dengan Aspac sebagai pemain muda, Tjetjep tidak sekadar berbicara tentang kemampuan bermain basket. Ia lebih dulu menggali tujuan sang pemain.
Tjetjep bertanya apa yang ingin dicapai Denny sebagai pebasket. Ketika Denny menjawab ingin menjadi yang terbaik, pertanyaan berikutnya justru mengarah pada bagaimana cara mencapai tujuan tersebut. Dari situlah proses pembinaan berjalan.
Bersama Aspac, Denny kemudian berkembang hingga meraih gelar Rookie of the Year pada 2001.
Baca Juga: Hadapi Raja Asia Tenggara, Putri Nusantara U-16 Turunkan Skuad Terbaik
Pada tahun yang sama, ia masuk tim nasional Indonesia. Perjalanan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana Tjetjep turut membentuk pemain muda yang kemudian memiliki karier panjang di level nasional.
Tjetjep juga memiliki hubungan erat dengan para pemain yang kemudian menjadi bagian dari generasi Aspac.
Antonius Joko Endratmo, misalnya, pernah menjadi pemain yang berada di bawah asuhannya selama bertahun-tahun. Keduanya bahkan kembali bertemu dalam situasi berbeda ketika Joko kemudian dipercaya menjadi pelatih Aspac.
Baca Juga: Pembalap F1 Lance Stroll Pamer Aston Martin Edisi Terbatas di Jalan Monaco
Jejak Tjetjep di Aspac bahkan terus terasa ketika dirinya tidak lagi duduk sebagai pelatih kepala. Pada musim 2012-2013, ia bergeser menjadi manajer setelah sebelumnya menjadi arsitek tim.
Pelatih baru Aspac, Jugianto Kuntardjo, saat itu mengatakan dirinya meneruskan jalur yang telah dibangun Tjetjep.
Artinya, pengaruh Tjetjep tidak hanya terlihat dari papan skor dan lemari trofi. Ada sistem, kebiasaan, serta pemain yang ikut tumbuh selama ia berada di dalam klub.
Baca Juga: Menang Telak Atas Saudi Arabia U16, Timo Nilai Ofensif Garuda Pertiwi Belum Maksimal
Bahkan ketika kembali berhadapan dengan Aspac sebagai pelatih tim lain, Tjetjep tetap membawa hubungan emosional dengan klub yang pernah dibesarkannya.
Pada 2014, ia memimpin Garuda menghadapi Aspac dalam turnamen pramusim. Pertandingan tersebut menjadi reuni karena di kubu Aspac terdapat Joko, mantan pemain yang pernah bekerja bersamanya selama era Kobatama.
Tjetjep sendiri bukan sosok yang lahir dari gemerlap karier sebagai pemain. Ia pernah memperkuat Mitra Guntur dan Indonesia Muda Jakarta, tetapi mengaku hanya berstatus pemain amatir dan tidak pernah bermain di level tertinggi bola basket.
Baca Juga: Pembalap F1 Lance Stroll Pamer Aston Martin Edisi Terbatas di Jalan Monaco
Sebelum benar-benar menekuni basket, ia bahkan sempat menjadi atlet bola keranjang dan memperkuat Indonesia di Kejuaraan Dunia Bola Keranjang 1982 di Belanda.
Justru dari jalur kepelatihan itulah namanya kemudian tumbuh besar.
Setelah membangun reputasi bersama klub, Tjetjep mendapat kepercayaan menangani Timnas Indonesia. Salah satu puncak kariernya terjadi pada Kejuaraan SEABA 1996 di Surabaya ketika Indonesia untuk pertama kalinya mengalahkan Filipina dan menjadi juara Asia Tenggara.
Baca Juga: Persija Hadapi Dua Laga Uji Coba di Thailand, Shin Tae-yong Racik Susunan Pemain Terbaik
Ia juga mengantar Indonesia meraih perunggu SEA Games 1999 dan mencatat sejarah lain dua tahun kemudian. Pada SEA Games 2001 di Kuala Lumpur, Indonesia merebut medali perak yang menjadi medali perak pertama timnas putra Indonesia dalam sejarah SEA Games.
Kini, Tjetjep telah pergi. Namun, bagi bola basket Indonesia, kisahnya tidak selesai bersama kepergiannya.
Ada trofi yang pernah ia angkat bersama Aspac, ada pemain yang pernah ia bentuk, ada generasi yang belajar dari cara kerjanya, dan ada jejak panjang yang membuat namanya tetap menjadi bagian dari sejarah basket Indonesia.
Baca Juga: Ini Dia, Jajaran Tim Pelatih Java United FC di Bawah Komando Fabio Lefundes
Artikel Terkait
Asisten Pelatih Arema FC, Kuncoro Meninggal Dunia
Kabarkan Ayah Messi Meninggal Dunia, Presenter TV Ini Mundur
Legendaris Baresi Dikabarkan Meninggal Dunia, Ini Reaksi Milan
Ayah Lionel Messi, Jorge, Meninggal Dunia Setelah Lama Sakit
Petinju Ini Meninggal Dunia Setelah Kekalahan 11 Tahun Silam