SportlinkNews – Ketua Panitia PON Bela Diri 2025, Suwarno, menjelaskan alasan mengapa hanya 10 dari 19 cabang bela diri yang terdaftar di KONI Pusat dapat dipertandingkan pada ajang di Kudus ini.
Menurutnya, keterbatasan infrastruktur menjadi alasan utama pembatasan jumlah cabang. Saat ini, pelaksanaan pertandingan masih bergantung pada dua GOR utama yang disiapkan oleh Djarum Foundation di Kudus, Jawa Tengah.
"Ini ada GOR baru yang disiapkan Djarum Foundation dan hanya bisa menampung dua cabang per lokasi. Jadi, tahun ini kami fokus dulu pada 10 cabang sebagai model penyelenggaraan," ujar Suwarno kepada media, Senin, 13 Oktober 2025.
Baca Juga: Mode Anti-Tren Menguasai Dunia Sepak Bola
Suwarno menambahkan, panitia berencana menjadikan PON Bela Diri sebagai agenda dua tahunan. Dengan begitu, cabang-cabang yang belum tampil tahun ini—seperti kabaddi, kurrash, dan tinju—diharapkan bisa ikut serta pada edisi berikutnya.
"Saya sudah berbicara dengan pengurus tinju nasional. Kemungkinan besar cabang tinju akan digelar di Sulawesi Utara, sementara cabor lain menyusul tahun depan," katanya.
Ajang Seleksi Atlet Nasional
Lebih jauh, Suwarno menegaskan bahwa PON Bela Diri tidak semata-mata mengejar perolehan medali, melainkan juga menjadi ajang seleksi dan pembinaan atlet nasional.
Baca Juga: Meningkatkan Kinerja Atlet Dayung dengan Sport Science
"Tujuan besar dari PON Bela Diri adalah menemukan atlet-atlet terbaik untuk masuk ke program nasional. Jadi event ini bukan sekadar kompetisi antarprovinsi, tapi juga langkah strategis dalam pembinaan jangka panjang," tegasnya.
Ia menilai, penyelenggaraan ajang khusus ini justru memberi keuntungan bagi daerah dalam mengatur fokus prestasi, tanpa harus berbagi perhatian dengan PON reguler yang memiliki banyak cabang olahraga.
"Ke depan, kami ingin jadwal dan puncak performa atlet bisa diatur lebih ideal. Dengan begitu, setiap daerah bisa menyiapkan atletnya secara maksimal tanpa terbebani banyak event sekaligus," tambah Wakil Ketua Umum I KONI Pusat itu.