SportlinkNews - Harapan Indonesia untuk mempertahankan dominasi di sektor ganda putra Australian Open 2026 kini bertumpu sepenuhnya pada pasangan Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani.
Mengingat ganda putra Indonesia lainnya, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin harus menghentikan langkah mereka pada babak 16 besar di Sydney, Kamis, 11 Juni 2026.
Leo/Daniel gagal melewati hadangan unggulan kedua asal China, Liang Wei Keng/Wang Chang, setelah kalah dua gim langsung dengan skor 15-21, 18-21.
Baca Juga: Putu Panji: Kami Kehilangan Fokus dan Harus Menerima Konsekuensinya
Kekalahan tersebut membuat Indonesia kehilangan satu wakil andalan dan menyisakan Sabar/Reza sebagai satu-satunya pasangan Merah Putih yang masih bertahan di nomor ganda putra.
Di tengah gugurnya Leo/Daniel, Sabar/Reza justru tampil sangat meyakinkan. Unggulan ketiga itu melaju ke perempat final dengan kemenangan telak 21-9, 21-9 atas pasangan gado-gado Inggris-Australia, Wang Yue Hang/Xie Zewei.
Penampilan dominan tersebut memperlihatkan kesiapan Sabar/Reza untuk melanjutkan perjalanan mereka di turnamen BWF World Tour Super 500 itu. Namun, tantangan yang lebih berat sudah menanti di babak delapan besar.
Baca Juga: Kehilangan Fokus di Akhir Laga, Garuda Muda Gagal Lolos ke Final ASEAN U-19
Pasangan Indonesia akan berhadapan dengan ganda Taiwan, Lee Fang-Chih/Lee Fang-Jen, yang berstatus unggulan kedelapan. Berdasarkan catatan pertemuan, lawan masih unggul dengan rekor empat kemenangan dari enam pertandingan.
Bahkan pada pertemuan terakhir di Badminton Asia Championships 2026 pada April lalu, Sabar/Reza harus mengakui keunggulan pasangan Taiwan tersebut setelah melalui pertarungan tiga gim yang ketat.
Catatan itu membuat duel perempat final nanti menjadi kesempatan bagi Sabar/Reza untuk membalas kekalahan.
Baca Juga: Grup C Piala Dunia 2026: Brasil Mencoba Peruntungan Baru Lewat Tangan Dingin Carlo Ancelotti
Sabar/Reza pun menjaga peluang Indonesia mempertahankan gelar juara ganda putra di Australian Open yang tahun lalu diraih oleh Raymond Indra-Nikolaus Joaquin.
Sementara itu, Leo mengakui dirinya dan Daniel kesulitan mengimbangi pola permainan Liang/Wang yang tampil lebih agresif sejak awal pertandingan.
"Mereka mampu mengambil inisiatif permainan sejak awal. Kami sempat mengimbangi, tapi banyak melakukan kesalahan sendiri. Saat menemukan ritme di gim kedua, respons kami sudah terlambat karena rotasi mereka berjalan sangat baik," tuturnya.
Baca Juga: Tepis Kekhawatiran Cuaca Panas, Declan Rice Tegaskan Skuad Inggris Sudah Siap Tempur
Meski gagal melangkah lebih jauh, Leo melihat pertandingan tersebut tetap memberikan pelajaran berharga bagi dirinya dan Daniel yang kembali dipasangkan setelah cukup lama tidak bermain bersama.
"Kami bisa mengambil hal positif dari hari ini. Kami bisa menakar kemampuan kami sampai di mana dan evaluasi apa yang harus diperbaiki ke depan setelah kembali dipasangkan," katanya.
"Sudah lama juga kami tidak bertemu Liang/Wang, jadi bisa tahu bagaimana perkembangan mereka sekarang."
Baca Juga: Aksi Heroik di Gim 4 Bawa Anunoby ke Puncak Perburuan MVP Final NBA.
Senada dengan Leo, Daniel menilai kunci pertandingan terletak pada kemampuan menguasai area depan lapangan.
Menurutnya, kondisi shuttlecock yang cukup cepat membuat pasangan yang mampu mengambil inisiatif serangan lebih dulu mendapatkan keuntungan besar.
"Di pertandingan tadi memang kuncinya siapa yang bisa main lebih dulu di depan, dia yang akan dapat keuntungan karena bolanya cukup kencang. Mereka juga bermain sangat aman," ujar Daniel menambahkan.