SportlinkNews - Indonesia dipastikan tidak lagi memiliki wakil di sektor ganda campuran Japan Open 2026 setelah Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah gagal melewati babak pertama.
Pasangan Merah Putih harus mengakui keunggulan ganda asal Prancis, Thom Gicquel/Delphine Delrue, dalam pertandingan yang berlangsung di Tokyo Metropolitan Gymnasium, Rabu, 15 Juli.
Amri/Nita harus mengakui keunggulan pasangan Prancis setelah kalah dalam pertarungan ketat dua gim dengan skor 18-21, 21-23.
Baca Juga: Raja Spanyol Berencana Hadir di Final Piala Dunia 2026
Mereka menjadi satu-satunya wakil ganda campuran Indonesia yang dikirim PBSI ke turnamen BWF Super 750 ini setelah empat pasangan Merah Putih lainnya absen.
Pada laga ini, Amri/Nita sebenarnya mampu mengimbangi permainan unggulan keenam tersebut.
Namun, meski beberapa kali memimpin perolehan angka, mereka gagal menjaga keunggulan pada poin-poin krusial sehingga harus mengakhiri langkah lebih cepat.
Baca Juga: Kepincut Atmosfer Super League, Pemain Brasil Ini Merapat ke Arema FC
Amri menilai kekalahan tersebut bukan disebabkan permainan lawan yang terlalu dominan, melainkan karena mereka sendiri yang kurang mampu mengelola situasi di poin-poin penentuan.
"Hari ini kesulitannya ada pada diri kami sendiri. Sebenarnya permainan berjalan cukup imbang, bahkan kami sempat beberapa kali unggul. Hanya saja kami kalah dalam mengelola poin-poin akhir, baik dari sisi taktik maupun strategi," tuturnya.
Hal senada disampaikan Nita. Ia mengakui sejumlah kesalahan sendiri menjadi faktor utama yang mengubah jalannya pertandingan, terutama ketika memasuki fase-fase penentuan.
Baca Juga: Persija Gelar Latihan Perdana, Shin Tae-yong Fokus Adaptasi dan Fisik Pemain
"Kami banyak melakukan kesalahan sendiri dan kalah tenang di poin-poin akhir. Itu yang akhirnya menjadi bumerang bagi kami," katanya.
Menurutnya, lawan juga cukup piawai mengganggu ritme permainan dengan berbagai cara, seperti beberapa kali meminta jeda dan mengganti shuttlecock, meski bola yang digunakan masih layak dimainkan.
"Mereka bermain dengan banyak cara, sering mengulur waktu, meminta istirahat, dan mengganti bola. Itu cukup mengganggu kami," tukas Nita.
Baca Juga: Statistik Argentina vs Inggris, Three Lions Unggul Tipis
"Ini menjadi pelajaran agar kami bisa lebih menjaga emosi, lebih sabar, dan tetap fokus dalam situasi seperti itu," tambah Nita lagi.
Variasi flick servis yang menjadi salah satu senjata pasangan Prancis, ucap Nita, sebenarnya sudah diantisipasi sejak sebelum pertandingan.
"Kami sebenarnya telah mempelajari pola permainan lawan. Namun sayang hasilnya berbeda saat pertandingan," tukasnya.