SportlinkNews - Persiapan menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tidak hanya berkutat pada peningkatan kemampuan teknik dan kondisi fisik atlet.
Menurut mantan juara dunia wushu asal Indonesia, Lindswell Kwok, aspek mental justru menjadi fondasi penting yang dapat menentukan keberhasilan seorang atlet ketika menghadapi tekanan di arena pertandingan.
Pandangan itu disampaikan Lindswell saat berdiskusi dengan Chief de Mission (CdM) Kontingen Indonesia, Todotua Pasaribu, dalam rangkaian kunjungan ke pemusatan latihan cabang olahraga jelang Asian Games 2026, di GBK Arena, Selasa, 21 Juli.
Baca Juga: Srikandi Merdeka Cup 2026 Jadi Ajang Talent Scouting Timnas Putri U-17
Peraih medali emas Asian Games 2018 yang kini menjadi pelatih timnas wushu Indonesia itu mengingatkan bahwa rasa percaya diri atlet tidak terbentuk secara instan.
Kondisi psikologis, menurutnya, sangat dipengaruhi oleh kualitas persiapan yang diberikan sebelum pertandingan dimulai.
"Ketika kami menjalani training camp di luar negeri, perlengkapan lengkap, baju disiapkan dengan baik, semuanya dipersiapkan dengan matang, suasananya berbeda sekali ketika masuk ke arena pertandingan," ujar Lindswell.
Baca Juga: Tak Dimainkan di Final Piala Dunia 2026, Lautaro Martinez Curahkan Isi Hatinya
"Mental atlet menjadi jauh lebih siap dibandingkan kalau hanya berlatih di kandang sendiri."
Peraih lima gelar juara dunia nomor taijiquan dan taijijian itu menilai perhatian terhadap hal-hal di luar lapangan sering kali dianggap sepele, padahal memiliki dampak besar terhadap performa atlet.
Dukungan berupa fasilitas latihan, akomodasi, transportasi, hingga perlengkapan bertanding mampu membuat atlet lebih tenang sehingga dapat sepenuhnya fokus pada penampilan di arena.
Baca Juga: Manchester United Lakukan Pergerakan Cepat Amankan Manu Kone
Menurut Lindswell, kebutuhan tersebut menjadi semakin penting bagi cabang olahraga individu seperti wushu, yang mengandalkan kemampuan atlet mengendalikan tekanan tanpa bergantung pada rekan setim.
"Yang paling penting sebenarnya adalah psikologis atlet. Kepercayaan diri mereka saat berada di arena sangat dipengaruhi oleh bagaimana persiapannya dibangun sejak jauh-jauh hari," katanya.
"Untuk cabang olahraga seperti wushu, atlet bertanding secara individu sehingga kesiapan mental menjadi sangat penting."
Baca Juga: Jhon Duran Bergabung dengan Benfica, Jadi Klub Ketujuh dalam Kariernya
Masukan dari mantan atlet berprestasi itu mendapat perhatian serius dari Todotua Pasaribu.
Ia menegaskan, kunjungannya ke berbagai cabang olahraga bukan sekadar memantau perkembangan latihan, tetapi juga menyerap pengalaman langsung dari atlet, pelatih, dan ofisial agar pelayanan kontingen Indonesia semakin tepat sasaran.
"Kami ingin mendengar langsung dari mereka yang pernah berada di lapangan. Atlet dan mantan atlet adalah pihak yang paling memahami kebutuhan selama mengikuti multi-event," ungkap Todotua.
Baca Juga: Dihujani Kritik Sepanjang Turnamen, De Paul Sebut Senyuman Argentina Mengganggu Banyak Pihak
"Masukan seperti inilah yang menjadi bekal kami untuk memastikan pelayanan kepada kontingen benar-benar menjawab kebutuhan atlet ketika berada di Asian Games nanti," lanjutnya.
Ia menambahkan, tugas CdM tidak berhenti pada urusan keberangkatan kontingen. Seluruh kebutuhan pendukung harus dipastikan berjalan optimal agar atlet dapat memusatkan perhatian sepenuhnya pada pertandingan.
"Kami ingin atlet datang ke arena hanya memikirkan pertandingan. Setiap cabang olahraga memiliki tantangan yang berbeda. Karena itu kami datang, berdiskusi, mendengar pengalaman mereka, lalu menyiapkan solusi yang paling sesuai," tutur Todotua.