Uapnya naik perlahan. Tangan menggenggam gelas. Beberapa gorengan tersaji.
Tidak ada restoran mewah. Tidak ada menu yang ditulis dengan istilah asing.
Hanya kopi panas, makanan sederhana, udara dingin, dan obrolan yang semakin hangat.
Kami tertawa. Membicarakan foto. Membicarakan perjalanan. Dan hal-hal lain yang tak terduga.
Baca Juga: Dari Calon Ballon d'Or hingga Tanpa Klub, Begini Nasib Anthony Martial di Usia 30
Dan tentu saja, membicarakan dinginnya Sikapuk.
Lucunya, setelah matahari terbit dan perut mulai terisi, semua sepakat bahwa perjalanan tadi sangat menyenangkan.
Padahal satu jam sebelumnya kami sibuk mengeluh kedinginan. Begitulah manusia.
Sering kali baru bisa menghargai sebuah perjalanan setelah berhasil melewatinya.
Baca Juga: Gasperini Frustrasi: Performa Roma Makin Jeblok
Pulang Membawa Pagi
Ketika akhirnya meninggalkan Sikapuk, matahari sudah cukup tinggi.
Jalanan mulai ramai.
Namun, lima orang dari kami memilih jalan kaki ke homestay ketimbang naik bus. Lutfi, Muklis, Seihan, Dwi dan Andri ingin menikmati alam sambil olahraga.
"Tantangannya bukan jarak 4,5 km, tapi medannya berkelok dan menanjak," kata Lutfi diamini oleh Muklis.
Baca Juga: FIFA Pasang Badan Bela Gianni Infantino, Sebut Ada Upaya Terkoordinasi untuk Menjatuhkannya
Sebuah pengalaman dari Sikapuk. Dan pengingat bahwa hidup tidak selalu harus dikejar.