SportlinkNews - Bagi banyak orang yang baru mengenal dunia kebugaran, istilah "bulking" mungkin sudah tidak asing lagi.
Bulking adalah proses meningkatkan massa otot dengan mengonsumsi lebih banyak kalori daripada yang dibakar tubuh.
Tujuannya adalah untuk membangun otot sebanyak mungkin sebelum memulai fase "cutting", di mana lemak tubuh berlebih akan dikurangi.
Baca Juga: Hebatnya Juergen Klopp Bisa Bikin Trent Alexander-Arnold Nangis Setelah Bertahun-tahun
Namun, seiring dengan popularitasnya, banyak mitos dan kesalahpahaman tentang bulking yang beredar di kalangan masyarakat.
Artikel ini akan mengupas beberapa mitos tersebut dan memberikan penjelasan berdasarkan fakta ilmiah.
Mitos 1: Bulking Berarti Makan Sebanyak Mungkin
Fakta:
Baca Juga: Naik Podium di Imola, Pembalap F1 Charles Leclerc Merasa Senang dengan Peningkatan Ferrari
Banyak yang percaya bahwa bulking berarti mengonsumsi makanan dalam jumlah besar tanpa memperhatikan jenis makanan yang dimakan.
Padahal, meskipun tujuan bulking adalah untuk surplus kalori, kualitas makanan yang dikonsumsi tetap sangat penting.
Makanan tinggi protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta vitamin dan mineral harus menjadi prioritas.
Baca Juga: Jersey Sepeda Unik Rancangan GRVL dengan Desain Grafis ala Telik Sandi
Mengonsumsi makanan tidak sehat atau junk food dalam jumlah besar mungkin akan menambah berat badan, tetapi sebagian besar dari berat tersebut kemungkinan adalah lemak, bukan otot.
Menurut ahli gizi, mengatur pola makan yang seimbang dengan fokus pada protein untuk membantu sintesis otot sangat penting dalam fase bulking.
Artikel Terkait
Kartu Skor Resmi Tyson Fury vs Oleksandr Usyk Terungkap, Penggemar Tinju Kecam Hakim Korup
Berenang seperti Ikan Mas, Hasil Penelitian Ilmuwan Ini Patut Diperhatikan
Adidas Menggoda Kembalinya F50, Predator Pilihan Messi
Lima Cara Tenis Meja Mengubah Sejarah Cina
Tyson Fury Bisa Kehilangan Rp810 Miliar setelah Kalah dari Oleksandr Usyk