Menurut Jonatan, kemajuan tersebut menunjukkan bahwa pembinaan tidak lagi hanya bertumpu pada latihan teknis di lapangan. Pendekatan ilmiah dan sistematis menjadi faktor penting dalam meningkatkan performa atlet.
Ia mencontohkan bagaimana negara-negara Eropa mulai menunjukkan peningkatan signifikan, seiring dengan pemanfaatan sport science yang lebih optimal. Hal ini mencakup berbagai aspek, mulai dari fisik, pemulihan, hingga analisis performa.
"Bukan hanya soal on court, tapi juga off court. Banyak hal yang sekarang bisa dipelajari, jadi perkembangan pemain jadi lebih cepat," katanya.
Baca Juga: Simeone Optimistis Atletico Madrid Singkirkan Barcelona
Jonatan juga menyinggung bahwa sebelumnya banyak pemain dunia datang belajar ke Indonesia, termasuk ke sistem pembinaan PBSI. Namun kini, negara lain telah mampu mengembangkan sistem mereka sendiri dengan pendekatan yang lebih modern.
"Bisa dikatakan, persaingan peringkat 1 hingga 25 dunia kini sangat merata. Bahkan, saking ketatnya, sejauh ini belum ada satu pun pemain yang mampu mengoleksi dua gelar juara," ujarnya.
Fenomena ini pun dinilainya membuat persaingan di level elite, khususnya turnamen Badminton World Federation (BWF) Super 1000, semakin terbuka dan tidak mudah diprediksi.
Artikel Terkait
Jadi Pelatih, Hendra Setiawan Langsung Ukir Prestasi di Indonesia Open 2025
Djarum Foundation Kembali ke Indonesia Open, Siap Angkat Kualitas Turnamen Super 1000
Mulai 2027, Indonesia Open Hadir dengan Format Super 1000 yang Diperluas
Indonesia Open 2026 Usung Konsep Ala NBA, PBSI Targetkan Kembali Jadi Super 1000 Terbaik Dunia
Jonatan Christie Bidik Gelar, Putri KW Benahi Konsistensi Jelang Indonesia Open 2026