Waspadai Cedera Otot, Ancaman Tersembunyi Bagi Atlet dan Penggiat Olahraga

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Selasa, 17 Juni 2025 | 20:28 WIB
Posisi cedera otot yang paling sering dialami oleh para atlet dan pelaku olahraga.
Posisi cedera otot yang paling sering dialami oleh para atlet dan pelaku olahraga.

SportlinkNews - Cedera otot menjadi salah satu risiko umum yang sering dialami oleh para atlet maupun individu yang rutin melakukan aktivitas fisik berat.

Cedera ini tidak hanya menyebabkan nyeri dan memar, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari jika tidak segera ditangani.

Secara umum, cedera otot terjadi ketika otot menerima tekanan atau stres yang melebihi kapasitasnya.

Kondisi ini menyebabkan gejala seperti rasa tertarik, nyeri tiba-tiba, pembengkakan, kejang, bahkan munculnya memar akibat rembesan darah di bawah kulit. 

Baca Juga: Minimnya Peran Pelatih Lokal di Liga 1 dan Timnas Indonesia, Cermin Krisis Regenerasi

Lokasi cedera yang paling sering ditemukan berada di leher, punggung bawah, serta otot hamstring. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan otot mengalami cedera, antara lain:

1. Latihan atau olahraga berlebihan, terutama tanpa jeda pemulihan yang cukup.

2. Kurangnya pemanasan dan pendinginan, yang membuat otot tidak fleksibel dan rentan cedera.

3. Laserasi otot, luka akibat kecelakaan atau benturan keras yang menyebabkan robekan otot.

4. Kontusio otot, cedera akibat benturan langsung seperti saat duel fisik di lapangan.

5. Strain otot, peregangan atau robekan berlebih pada otot, sering terjadi pada betis dan hamstring.

Baca Juga: Timnas Skateboard Indonesia Tembus Peringkat 50 Dunia di World Cup Rome 2025

Klasifikasi cedera otot dibagi ke dalam 3 tingkatan derajat berdasarkan jumlah serat otot yang mengalami gangguan. Penentuan tingkatan ini biasanya mengandalkan investigasi klinis dan pencitraan. 

Derajat I (ringan). Hanya memengaruhi sejumlah kecil serat di otot dan tidak mengakibatkan penurunan kekuatan ataupun rentang gerak aktif dan pasif penderitanya secara penuh. Rasa sakit dan nyeri biasanya muncul sehari setelah cedera terjadi.

Derajat II (sedang). Menyebabkan hampir setengah serat di otot robek dan menimbulkan rasa sakit akut yang signifikan, disertai dengan pembengkakan dan sedikit penurunan kekuatan otot.

Baca Juga: Denny Landzaat Tolak Pinangan Ajax, Pilih Tetap Dampingi Timnas Indonesia

Derajat III (berat). Seluruh serat di otot robek atau terputus menjadi dua bagian terpisah, mengakibatkan bengkak, rasa sakit yang parah, serta hilangnya fungsi gerak secara total

Bagaimana menanganan cedera otot dan pengobatannya? Untuk cedera otot ringan, bisa menggunakan metode RICE secara mandiri.

Rest: Istirahatkan otot yang cedera.
Ice: Kompres dingin selama 15–20 menit tiap 2–3 jam.
Compression: Gunakan perban elastis untuk menekan area cedera.
Elevation: Angkat area cedera agar lebih tinggi dari jantung.

Baca Juga: Bojan Hodak Legowo Luizinho Passos Bergabung ke Bhayangkara Presisi Lampung FC Menjelang Liga 1 2025/26

Namun, untuk cedera yang lebih parah, dibutuhkan penanganan profesional. Dokter biasanya meresepkan NSAID (obat antiinflamasi nonsteroid) untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. 

Penggunaan obat ini harus di bawah pengawasan karena dapat menimbulkan efek samping, terutama bagi penderita penyakit ginjal atau gangguan pencernaan.

Tapi ada yang lebih baik dari pada mengobati cedera otot, yakni mencegah terjadinya cedera. Ada beberapa langkah preventif untuk menghindari adanya cedera pada otot:

Baca Juga: Menunggu Sanksi Berakhir, Yuran Fernandes Tetap Memperkuat PSM Makassar di Liga 1 2025/26

1. Lakukanlah pemanasan dan peregangan sebelum dan setelah berolahraga

2. Tingkatkan intensitas aktivitas secara bertahap.

3. Hindari mengangkat beban berat secara tiba-tiba.

4. Perhatikan postur tubuh saat bergerak dan berolahraga.

Cedera otot bukan hanya masalah bagi atlet profesional, tetapi bisa dialami siapa saja yang aktif bergerak tanpa persiapan fisik yang cukup. 

Menjaga fleksibilitas, kekuatan, dan kebiasaan latihan yang benar akan membantu meminimalkan risiko cedera dan mendukung performa yang optimal.

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Sumber: Youtube RS Premier Bintaro, Mayapada Hospital

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bolehkah Lari Tiap Hari? Ini yang Perlu Diketahui

Minggu, 4 Januari 2026 | 22:28 WIB

Seberapa Penting Manajemen Tidur untuk Atlet?

Minggu, 15 Juni 2025 | 23:39 WIB

Manfaat Yoga untuk Aktivitas Olahraga

Jumat, 14 Februari 2025 | 07:51 WIB
X