SportlinkNews - Cedera dalam dunia olahraga kerap dianggap sebagai risiko yang melekat dalam proses latihan dan kompetisi.
Namun, studi-studi terbaru mulai menunjukkan bahwa ada faktor biologis yang sebelumnya kurang diperhitungkan, yakni siklus menstruasi.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa fluktuasi hormonal pada atlet wanita berpotensi meningkatkan risiko cedera, terutama dalam fase-fase tertentu dari siklus menstruasi.
Salah satu penelitian teranyar dari University of Vigo, Spanyol, menemukan bahwa perubahan hormon bulanan dapat mengubah biomekanik dan pola gerakan, sehingga memperbesar peluang terjadinya cedera.
Baca Juga: Ramadhan Sananta Diincar DPMM FC, Klub Milik Putra Mahkota Brunei
Hormon seperti estrogen dan progesteron yang meningkat dalam tubuh selama siklus menstruasi juga diketahui memengaruhi keseimbangan, kekuatan otot, hingga kemampuan tubuh dalam membangun dan memperbaiki jaringan.
Atlet dayung Kanada, Kristen Kit yang pernah meraih dua medali Olimpiade menceritakan berdasarkan pengalamannya, di mana dirinya mencatat bahwa beberapa cedera yang dialaminya terjadi menjelang menstruasi.
"Dalam balapan, semua kecelakaan besar saya sepertinya terjadi tepat sebelum menstruasi. Ketika saya patah tulang selangka, saya mengalami menstruasi beberapa hari kemudian," kata Kit dikutip dari CBC Sports.
Baca Juga: Satu Tim Mundur, Thailand Bakal Kehilangan Keunggulan Besar di SEA Games?
Fase luteal, yaitu lima hari sebelum menstruasi, disebut-sebut sebagai periode paling rawan cedera. Namun, peneliti asal Kanada, Joanna Blodgett mengatakan bahwa risiko cedera ini tidak seragam sepanjang siklus.
"Ini penting diketahui, karena kita tidak bisa mengatur jadwal pertandingan berdasarkan siklus setiap atlet, tapi kita bisa lebih cermat dalam strategi pencegahan," katanya.
Sayangnya, belum ada penelitian eksklusif yang fokus pada atlet wanita. Hanya 6 persen bila menurut Blodgett, sementara sisanya masih berbasis data dari atlet pria, baik itu untuk program latihan, strategi pemulihan, dan pencegahan cedera.
"Jika kita ingin menciptakan lapangan yang lebih adil bagi perempuan, penelitian harus mengejar ketertinggalan," ungkap Blodgett.
Baca Juga: Kluivert Kepincut Lilipaly Jadi Pengganti Ragnar Oratmangoen Meski Pernah Dicuekin STY
Fenomena ini menjadi perhatian organisasi olahraga dunia. Contohnya FIFA, baru-baru ini mereka mendanai penelitian di Kingston University, Inggris, untuk menyelidiki hubungan antara siklus menstruasi dan tingginya kasus cedera anterior cruciate ligament (ACL) pada pemain sepak bola wanita.
Data menunjukkan wanita memiliki risiko 2,8 kali lebih besar mengalami robeknya ACL dibanding pria.
Menurut Dr. Margo Adam, asisten profesor di University of Alberta, banyak atlet wanita melaporkan mengalami gangguan konsentrasi dan performa selama menstruasi.
Karena gangguan kecil seperti kram atau nyeri bisa mengalihkan fokus dari strategi permainan.
Baca Juga: Wayne Rooney Soroti Krisis Man United, Usulkan 3 Rekrutan Demi Kebangkitan Musim Depan
Lebih lanjut, Adam menyebut bahwa pelacakan siklus secara individu, misalnya melalui aplikasi, bisa membantu atlet dan pelatih mengantisipasi potensi penurunan performa atau risiko cedera.
Sementara itu, tinjauan sistematis yang dipublikasikan di National Library of Medicine menegaskan bahwa puncak estrogen selama ovulasi juga berkaitan dengan peningkatan kelemahan otot dan kontrol neuromuskuler yang buruk.
Studi tersebut menemukan bahwa risiko cedera meningkat terutama pada fase ovulasi, menambah bukti bahwa fluktuasi hormonal memiliki peran nyata terhadap kesehatan fisik atlet wanita.