Indonesia menumpuk regulasi, menerbitkan undang-undang, serta memproduksi jargon-jargon teknokratis yang megah—mulai dari sport science, long-term athlete development, hingga produk mutakhir berupa Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).
Secara normatif-konseptual, semua dokumen tersebut tampak paripurna. Namun, dalam realitasnya, kita terjebak dalam apa yang dalam literatur kebijakan publik disebut sebagai policy formalism: sebuah kondisi patologis di mana negara merasa telah menyelesaikan kewajibannya hanya dengan menyelesaikan teks kebijakan, sementara membiarkan fondasi operasionalnya rapuh dan terfragmentasi.
Buku ini bukan sekadar kritik
Sadik menawarkan arah baru: bagaimana membangun sistem olahraga yang berkelanjutan, berbasis meritokrasi, dan mampu melahirkan prestasi secara konsisten—sekaligus menjadi bagian dari strategi besar menuju Indonesia Emas 2045.
Ini bukan hanya buku tentang olahraga. Ini tentang bagaimana sebuah bangsa belajar bekerja, berbenah, dan akhirnya benar-benar menang.
Olahraga kerap dipahami secara sederhana sebagai arena kompetisi—tentang menang dan kalah, tentang medali dan peringkat. Sesungguhnya, olahraga merupakan cermin dari cara sebuah bangsa mengelola dirinya sendiri.
Baca Juga: Pelatih Mesir Pingsan di Tengah Pertengkaran antara Istri Baru dan Mantan
Sadik merefleksikan bagaimana kebijakan dirancang, institusi bekerja, sumber daya dialokasikan, dan pada akhirnya, bagaimana manusia dibentuk.
Menurut Sadik, buku Membangun Otot di Negeri Kertas, hadir dalam kegelisahan: mengapa sebuah negara yang memiliki begitu banyak kebijakan, regulasi, dan program di bidang olahraga, belum sepenuhnya mampu membangun sistem prestasi yang berkelanjutan?
Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan teknis, tetapi pertanyaan struktural yang menyentuh inti dari tata kelola dan politik pembangunan itu sendiri.
Melalui analisis, buku Membangun Otot di Negeri Kertas ini, penulis mengajak pembaca untuk melihat olahraga dari perspektif yang lebih luas— sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.
Baca Juga: Unik, Main Catur di Bawah Air
Buku ini tidak hanya membedah persoalan fragmentasi kebijakan, lemahnya tata kelola, dan ilusi dalam politik anggaran, tetapi juga menawarkan arah pembaruan yang konkret dan sistemik.
Dengan menghubungkan isu olahraga dengan konsep human capital, governance, dan ekonomi pembangunan, buku ini diharapkan memberikan kontribusi penting dalam memperkaya diskursus kebijakan publik di Indonesia.
Di tengah kompleksitas persoalan, penulis tetap menghadirkan optimisme yang rasional—bahwa perubahan bukan hanya mungkin, tetapi juga dapat dirancang dan dijalankan.
Artikel Terkait
Terungkap Kondisi Jamal Musiala Usai Dua Kali Kehilangan Kesadaran
Ini Peraturan Baru Serie A, Termasuk Lemparan ke Dalam
Juventus Bersiap Melepas Mantan Gelandang Liverpool dan Barcelona
Foto Mesra Kim Kardashian dan Lewis Hamilton Bikin Penggemar Baper
Dilema Stadion Baru Chelsea Senilai Rp 120 Triliun Jadi Inti Keputusan Todd Boehly Menjual Saham