"Mereka terlalu tertekan sehingga tampil ragu-ragu dan tidak yakin.”
Baca Juga: China Open 2025: Jonatan Amankan Tiket 16 Besar dengan Situasi Lapangan yang Berangin
Vita menambahkan bahwa dalam situasi seperti itu, keberanian dan mental nekat sangat dibutuhkan.
Ia menilai pasangan Rehan/Gloria masih harus memperbaiki banyak hal agar bisa bersaing di level atas.
Ia juga menyoroti permainan Rehan yang dinilai terlalu emosional di lapangan.
Baca Juga: Legenda Bulutangkis Iie Sumirat Tutup Usia, “Pembunuh Raksasa” yang Tak Tergantikan
Semangat yang berlebihan membuatnya kesulitan mengontrol permainan sehingga banyak melakukan kesalahan sendiri yang merugikan tim.
“Kadang Rehan terlalu bernafsu, akhirnya kontrolnya hilang dan banyak membuat kesalahan sendiri,” kata Vita.
Meski begitu, ia menilai ada sedikit perkembangan dari sisi non-teknis pada penampilan Rehan.
Baca Juga: Pelan Tapi Pasti, Gregoria Mulai Tunjukkan Performa Membaik
Secara keseluruhan, Vita menegaskan bahwa jika Rehan/Gloria ingin berada di jajaran elite dunia, minimal top 5, mereka harus tampil dengan kualitas yang konsisten di semua aspek.
“Kalau mau jadi top 1 sampai 5 dunia, harus lengkap, tidak bisa setengah-setengah,” tegasnya.
Menatap turnamen berikutnya, Macau Open 2025, Vita berharap Rehan/Gloria bisa menunjukkan peningkatan.
Baca Juga: Ganda Putra Indonesia Saling Sikut di 16 Besar China Open 2025
Dalam turnamen BWF World Tour Super 300 tersebut, mereka akan menjadi unggulan keempat.
Artikel Terkait
Japan Open 2025: Tentang Comeback Ginting dan Gregoria, Juga Debut Fajar/Fikri
Dua Ganda Pertahankan Harapan Indonesia di Japan Open 2025
Evaluasi Japan Open 2025: Sektor Tunggal Indonesia Masih Belum Stabil
Dominasi Baru Korea Selatan, Kim Won-ho/Seo Seung-jae Jadi Ganda Putra Nomor Satu Dunia
Kekuatan Indonesia Berkurang di China Open 2025, Lanny/Fadia Ditarik dari Keikutsertaan