fisiologi-olahraga

Heart Rate dan Pace, Kunci Performa Lari Optimal

Sabtu, 14 Juni 2025 | 22:04 WIB
Para pelari di CFD Jakarta.

SportlinkNews - Dalam dunia lari, dua istilah yang tak asing bagi para pelari adalah heart rate (denyut nadi) dan running pace (kecepatan lari).

Meski sering dianggap sebagai indikator terpisah, keduanya justru saling melengkapi dan harus diseimbangkan untuk mendapatkan performa optimal.

Denyut nadi mengukur berapa kali jantung berdetak per menit, sedangkan pace menunjukkan waktu tempuh per kilometer saat berlari.

Tapi, sering kali pelari hanya fokus pada satu aspek, yakni pace, bahkan membandingkannya dengan pelari lain, tanpa mempertimbangkan denyut nadinya.

Baca Juga: Ousmane Dembele Bangkit, dari Gagal di Barcelona hingga Calon Ballon d’Or

Padahal, seperti dijelaskan oleh dr. Taufan Favian Reyhan, Sp.KO, Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, ketidakseimbangan antara heart rate dan pace bisa membuat tubuh bekerja terlalu keras dan meningkatkan risiko kelelahan.

"Heart rate bisa naik lebih tinggi meskipun pace lambat karena faktor-faktor eksternal seperti cuaca panas, kelembaban tinggi, dehidrasi, atau medan yang menanjak. Ini membuat jantung harus bekerja ekstra untuk mengimbangi kondisi tersebut," ujarnya.

Ketidakseimbangan ini, lanjutnya, bukanlah akhir dari segalanya. Justru bisa menjadi indikator untuk menetapkan target latihan selanjutnya. 

Baca Juga: Toprak Razgatlioglu Kuasai Race 1 WorldSBK Emilia-Romagna, Bulega Kena Penalti

Misalnya, jika pelari menargetkan lari 5K dalam 30 menit (pace 6:00/km), heart rate mungkin masih belum stabil pada 15 menit pertama. Namun, dengan latihan rutin, tubuh akan beradaptasi dan performa meningkat.

Setelah itu, pelari bisa menantang diri meningkatkan pace menjadi 5:00/km. Heart rate pun akan naik lagi, dan menjadi tantangan baru.

Sementara itu, dr. Elsye, Sp.KO dari Mayapada Hospital Kuningan menambahkan pentingnya menjaga heart rate tetap dalam zona aman, terutama untuk pelari jarak jauh.

Baca Juga: Bangkit atau Tersingkir: Gim 5 Final NBA Jadi Ujian Karakter Pacers

"Hitung Denyut Nadi Maksimal (DNM) dengan rumus 220 dikurangi usia. Kalau usia 40 tahun, maka DNM-nya 180," katanya.  

"Berlarilah di zona yang nyaman untuk tubuh, bukan semata mengejar pace cepat," jelasnya kemudian.

Pemahaman akan heart rate dan running pace ini penting untuk diketahui baik pelari pemula atau pun pelari elite. 

Sebab, dalam berlari bukan yang tercepat yang selalu menang, tapi yang paling cerdas mengelola tubuh dan strategi. Sehingga baik heart rate atau running pace sama-sama pentingnya. 

Tags

Terkini

Bolehkah Lari Tiap Hari? Ini yang Perlu Diketahui

Minggu, 4 Januari 2026 | 22:28 WIB

Seberapa Penting Manajemen Tidur untuk Atlet?

Minggu, 15 Juni 2025 | 23:39 WIB

Manfaat Yoga untuk Aktivitas Olahraga

Jumat, 14 Februari 2025 | 07:51 WIB