Penelitian dari National Institutes of Health menyebutkan, overtraining bisa mengganggu keseimbangan hormon tubuh, meningkatkan kadar kortisol kronis—hormon stres “fight or flight”—dan menekan aktivasi sistem imun.
“Salah satu cara mudah untuk mengetahui apakah ini terjadi adalah memperhatikan seberapa sering Anda merasa lelah atau mudah sakit, atau lama sembuh dari penyakit,” kata Scott.
“Misalnya, pilek yang sembuh lebih lama atau luka kecil yang tidak cepat pulih bisa menjadi tanda sistem imun bekerja lebih keras dari seharusnya.”
Baca Juga: Tiga Kekalahan Beruntun, PSM Makassar Kehilangan Konsistensi
Menyusun jadwal lari yang sesuai kebutuhan membutuhkan waktu dan progres bertahap dalam durasi dan jarak untuk mencegah cedera. “Bagi sebagian besar pelari pemula yang ingin mulai lari setiap hari, pendekatan terbaik adalah mulai dengan lari dua hingga tiga hari non-berturut-turut per minggu selama minimal enam minggu untuk mempersiapkan tubuh menghadapi intensitas lebih tinggi,” saran Scott.
Setelah itu, Anda bisa menambahkan hari latihan untuk blok enam hingga delapan minggu, tergantung kondisi tubuh setelah satu atau dua hari pemulihan. Artinya, lari setiap hari tidak selalu buruk, tetapi langsung mulai setiap hari bisa meningkatkan risiko cedera.
“Seperti halnya olahraga lainnya, dengarkan tubuh dan istirahatlah saat dibutuhkan. Tanda overtraining termasuk mudah marah, lelah, sering sakit, dan motivasi rendah. Saat membangun kebiasaan lari harian, ingat tanda-tanda ini dan sesuaikan jadwal jika perlu.”
Yuk, gabung di channel whatsapp sportlinknews.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru. Klik di sini (JOIN)
Artikel Terkait
Studi Ilmu Olahraga Menunjukkan Tidak Ada Peningkatan Risiko Cedera Akibat Lari Menanjak atau Menurun
Ini Sepatu Lari yang Tepat untuk Semua Jenis Pelari, Menurut Para Profesional
Topi Lari Terbaik Tahun 2025, Cocok untuk Wanita Kepala Kecil
Rahasia Performa Runners: Pola Makan Tepat Sebelum dan Setelah Lari
Cedera Lari: Simetri Kekuatan Pinggul untuk Kesehatan Kaki